Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.460
  • EMAS662.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Melancarkan distribusi likuiditas perbankan

Jumat, 08 Maret 2019 / 09:01 WIB

Melancarkan distribusi likuiditas perbankan

Isu keketatan likuiditas perbankan masih berdengung pada periode awal tahun ini. Penyebabnya masih seputar itu-itu saja, yakni derasnya laju pertumbuhan kredit yang tidak diimbangi dengan laju perolehan dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan.

Berkaca pada tahun 2018, laju pertumbuhan kredit tercatat 11,75% year on year (yoy), melebihi laju perolehan DPK yang mencapai 6,5% (yoy). Imbasnya, rasio kredit terhadap DPK atau loan to deposit ratio (LDR) menjulang tinggi menjadi 94,04%.

Isu tersebut sepertinya akan terus berlanjut di sepanjang 2019. Terutama karena upaya perbankan mendulang DPK masih diliputi tantangan.

Untuk itu, beberapa bank besar telah mengambil langkah untuk menyiasati hal tersebut. Dengan mengutip informasi dari berbagai media massa, langkah bank tersebut diantaranya dengan menerbitkan surat utang, misalnya Bank Mandiri sebesar Rp 40 triliun, Bank Tabungan Negara (BTN) sebesar Rp 14 triliun, dan Bank CIMB Niaga sebesar Rp 1 triliun. Sementara Bank Rakyat Indonesia (BRI) dalam periode 2019 - 2021 berencana mengeluarkan surat utang sebesar Rp 20 triliun.

Kendati demikian, isu keketatan likuiditas perbankan perlu dilihat lebih lanjut. Memang indikator keketatan likuiditas yang umum dipakai yaitu LDR pada 2018 cukup tinggi mencapai 94,04%.

Namun, bila kita mengamati tren historisnya, katakanlah dari 2010 hingga 2018, rata-rata LDR industri perbankan hanya 84,63%. Dari rentang waktu tersebut, baru pada 2018 LDR industri perbankan melampaui 92%. Sisanya, LDR berkisar antara 72,88% hingga 91,95%. Kondisi ini dapat diartikan bahwa selama periode 10 tahun tersebut, yakni dari 2008 hingga 2017, perbankan sejatinya menumpuk likuiditas.

Selain itu, perlu diketahui juga bahwa dalam menyalurkan kredit, bank tidak semata-mata mengandalkan sumber dana dari DPK. Mereka juga ternyata aktif mengeluarkan surat utang, mengambil pinjaman dari pihak lain, terutama utang luar negeri, atau menerbitkan saham baru.

Merujuk Statistik Perbankan Indonesia yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sejak 2008 hingga 2018, perbankan kita telah menerbitkan surat utang sebesar Rp 115,13 triliun atau meningkat 705,04% atau Rp 100,83 triliun selama periode itu. Lalu mengambil pinjaman dari pihak lain sebesar Rp 296,75 triliun atau meningkat 2.191,65% dibandingkan dengan periode yang sama 2008 yakni Rp 283,80 triliun. Sementara langkah menerbitkan saham baru sebesar Rp 209,32 triliun atau meningkat 142,60% dari sepuluh tahun silam Rp 123,04 triliun.

Gambaran tren LDR ini yang juga diiringi dengan besarnya pendanaan dari non-DPK tersebut, menunjukkan perbankan sejatinya memiliki likuiditas yang masih cukup banyak. Kondisi ini setidaknya terkonfirmasi dari besarnya dana perbankan di Operasi Moneter (OM) BI.

Sebagai gambaran saja, per Desember 2018 dana bank di OM BI telah mencapai Rp 289,18 triliun.

Tidak hanya itu, perbankan kita juga ternyata makin rajin menempatkan dananya di Surat Berharga Negara (SBN) yang diperdagangkan. Hal ini terlihat dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemkeu), yang memperlihatkan perbankan Indonesia memiliki SBN yang diperdagangkan mencapai Rp 481,33 triliun per Desember 2018.

Jadi, total alat likuid perbankan yang bila hanya memperhitungkan dana di OM BI dan SBN tersebut mencapai Rp 770,51 triliun atau 13,68% dari DPK per Desember 2018. Jumlah yang terbilang masih sangat besar.

Sementara itu, untuk menaikkan kredit sebanyak 1%, setidaknya dibutuhkan dana kurang dari Rp 60 triliun. Dengan demikian, dibandingkan dengan ketersediaan likuiditas, terlihat sebenarnya sangat mudah bagi perbankan untuk menaikkan kredit sebanyak 1% hingga 2% saja.

Perbankan sendiri selalu berujar bahwa penempatan dana mereka di OM BI dan SBN bersifat sementara karena belum sempat disalurkan di kredit. Makanya, logis saja ketika ingin meningkatkan penyaluran kredit, perbankan tinggal mencairkan penempatannya di kedua jenis aset tersebut.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0533 || diagnostic_web = 0.4097

Close [X]
×