kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45788,56   1,37   0.17%
  • EMAS1.011.000 -0,10%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.11%

Melawan Resesi

oleh Barly Halim Noe - Managing Editor


Rabu, 05 Agustus 2020 / 10:28 WIB
Melawan Resesi
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Kalangan pecinta emas sedang dinaungi kemujuran dan dibanjiri cuan besar. Betapa tidak, harga logam mulia itu terus mendaki dan memperbarui rekor harga tertingginya sepanjang masa.

Di atas kertas, harga emas batangan naik 33% sejak awal tahun hingga Agustus ini, dan melesat sekitar 40% bila ditarik setahun ke belakang. Nyaris tiada instrumen investasi yang bisa menandingi imbal hasil emas dalam situasi saat ini.

Bahkan mulai pekan terakhir Juli 2020 lalu, harga emas batangan buatan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk memasuki level Rp 1 juta per gram. Ini adalah satuan harga baru setelah sekian lama emas diperdagangkan dalam rentang harga ratusan ribu rupiah per gram.

Namun demikian, sesungguhnya lompatan tinggi harga emas menyisakan pertanda mencemaskan karena menjadi sinyal ekonomi yang sedang tidak sehat. Sebab secara umum, potensi jatuhnya ekonomi ke dalam jurang resesi yang sulit diukur dalamnya itu memicu investor menubruk aset anti-krisis (safe haven), terutama emas. Inilah yang memicu harga emas melonjak gila-gilaan.

Oh, iya, ihwal kesehatan ekonomi Indonesia, hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020. Pengumuman dari BPS itu sekaligus memastikan kondisi ekonomi Indonesia terkini, apakah masuk atau selamat dari ancaman resesi.

Nah, pepatah menyatakan, sedia payung sebelum hujan. Persiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi resesi ekonomi. Anjuran ini berlaku umum, baik pemerintah maupun rakyat jelata.

Kita, misalnya, dianjurkan berhemat dan menabung demi memupuk dana darurat untuk menyiasati ketidakpastian akibat resesi ekonomi. Jauhi utang dan jangan boros. Berbelanjalah sesuai kebutuhan, fokus pada pemenuhan kebutuhan pangan dan kesehatan.

Kemampuan tiap individu menyediakan dana darurat akan menjaga stamina menghadap resesi yang entah sampai kapan akan berlangsung. Pandemi ini telah memberi pelajaran berharga bahwa kemampuan kita berhemat menjamin kekuatan daya tahan keuangan kita.

Selain kesiapan finansial, menjaga kesehatan jelas faktor krusial di masa resesi. Apalagi resesi ekonomi kali ini dipicu pendemi Covid-19. Dus, solusi utama mengatasi resesi adalah mengakhiri wabah korona itu sendiri. Jika korona tiada, berakhir pula resesi ekonomi dari muka kita.

Yuk, kita lawan resesi dengan disiplin menjalankan protokol pencegahan Covid-19.

Penulis : Balry Halim Noe

Managing Editor



TERBARU
Terpopuler

[X]
×