kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.595
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS610.041 0,33%

Memahami kepribadian penyebar hoaks

Senin, 29 Oktober 2018 / 11:14 WIB

Memahami kepribadian penyebar hoaks



Tahun politik selalu ditandai dengan situasi politik nasional yang semakin memanas. Salah satu diskursus yang sedang mengemuka sejak dua tahun terakhir adalah tentang eksistensi penggunaan berita hoaks di media sosial yang dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis. Di berbagai kanal berita, isu tentang penggunaan berita kebohongan untuk berkampanye mulai menjadi isu yang diangkat oleh berbagai pihak. Dari kelompok partai pendukung pemerintah maupun kelompok partai oposisi. Presiden mengimbau semua pihak melawan politik kebohongan.

Faktanya, isu politisasi berita kebohongan memang selalu menjadi salah satu isu penting dalam konstelasi politik nasional kita. Pada bulan April 2017, situs aduan Turn Back Hoax mendapatkan lebih dari 1.900 laporan masyarakat hanya dalam rentang kurang dari tiga bulan. Itu merupakan aduan masyarakat tentang konten berita yang mengandung unsur kebohongan dan sengaja viral. Mayoritas aduan terkait politik. Menariknya, mayoritas berita bohong dikemas dengan framing agama.

Data di atas menunjukkan dua interpretasi. Pertama, politik kebohongan tampaknya masih merupakan sebuah fenomena yang dipilih menjadi modus utama dalam praktik politik di Tanah Air. Bukan tidak mungkin pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden tahun depan masih akan diisi dengan berbagai isu hoaks, post-truth, echo chamber, UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), serta istilah lain yang berkaitan validitas informasi, dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Kedua, isu agama dan sektarianisme diyakini masih akan menjadi tema yang digunakan untuk menggoreng berita kebohongan ini. Tipologi masyarakat pengguna media sosial kita masih didominasi berbagai latar belakang masyarakat. Salah satu diantaranya masyarakat yang sangat sensitif terhadap isu agama (Sofjan, 2016). Namun, pada tulisan ini kita akan menekankan diskusi pada poin pertama.

Mengapa seseorang berani menyebarkan berita kebohongan untuk kepentingan politik? Pertanyaan ini sangat krusial untuk dijawab saat ini. Jika dicermati, ulasan tentang politik kebohongan telah banyak dibedah dari berbagai sisi. Mayoritas pembahasan cenderung menitikberatkan pada analisis politik atau sudut pandang sosiologis. Tapi, salah satu poin penting yang kerap luput dari pembahasan adalah penyebaran berita kebohongan juga melibatkan unsur insani. Ada manusia dengan segala kompleksitas kepribadiannya yang menjadi penyebab bagaimana kebohongan disebarkan dan dipercayai.


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.1062 || diagnostic_web = 0.5050

Close [X]
×