kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Memaknai polemik CSR PB Djarum


Jumat, 20 September 2019 / 10:30 WIB

Memaknai polemik CSR PB Djarum

Beberapa waktu lalu polemik antara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Yayasan Lentera Anak dengan PB Djarum muncul dan menghiasi ruang publik. PB Djarum dituding melakukan eksploitasi anak saat melakukan audisi umum untuk mencetak atlit bulu tangkis berprestasi.

Apa yang dilakukan PB Djarum sebenarnya adalah bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang wajib dilakukan perusahaan dan diperuntukkan bagi masyarakat. Program CSR lazim dilakukan perusahaan dan biasanya program yang dipilih adalah yang mendukung kebijakan pemerintah. Dalam melaksanakan CSR, Perusahaan bebas memilih program yang diterapkan dengan memperhitungkan manfaat yang diterima masyarakat.

Meski CSR bukanlah hal yang baru dan bisa dilakukan siapa saja, namun implementasi CSR berbasis pemberdayaan serta kesejahteraan masyarakat dan modal sosial belum banyak dilakukan. CSR yang sering dilakukan selama ini memiliki makna sosial dan bisnis sekaligus. Alhasil, praktik CSR masih dikaitkan dengan peningkatan citra korporasi sehingga banyak kalangan melihat CSR sebatas "kosmetik".

Padahal, ada juga korporasi yang melakukan CSR dengan tujuan memperkuat modal sosial komunitas dan masyarakat lokal untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan pengelolaan kualitas hidup. Empat pilar CSR yang dapat dilakukan perusahaan, yakni charity (perbuatan amal), community empowerment (pemberdayaan masyarakat), capacity building (peningkatan kapasitas), dan infrastructure (infrastruktur).

Perusahaan harus beranggapan bahwa pembangunan masyarakat bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, tetapi merupakan bagian perusahaan dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Perusahaan turut berperan aktif mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mempertimbangkan faktor lingkungan hidup. Kini, perusahaan tidak hanya memperhatikan keuangan semata (single bottom line), melainkan juga sisi sosial dan pengelolaan lingkungan, biasa disebut tripple bottom line, yakni sinergi tiga elemen ini merupakan kunci konsep pembangunan berkelanjutan.

Terlepas dari polemik soal produk rokok, PB Djarum telah memulai program CSR mereka sejak tahun 1951 dengan sebutan Djarum Foundation. Ini merupakan organisasi nirlaba dengan misi memajukan Indonesia dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan mempertahankan kelestarian sumber daya alam.

Selama ini Djarum Foundation terus berkesinambungan, konsisten, dan tepat sasaran dalam melakukan CSR di bidang sosial (Bakti Sosial Djarum Foundation), Olah raga (Bakti Olahraga Djarum Foundation), Pendidikan (Bakti Pendidikan Djarum Foundation), Lingkungan (Bakti Lingkungan Djarum Foundation), dan Kebudayaan (Bakti Budaya Djarum Foundation).


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×