kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Membongkar narasi direct call


Sabtu, 11 Mei 2019 / 10:30 WIB

Membongkar narasi direct call


Pelayaran langsung atau biasa disebut direct call belakangan ini sering terdengar dan diucapkan oleh pelaku usaha pelabuhan maupun pelayaran nasional. Para pimpinan puncak perusahaan kedua bidang usaha tersebut acap berkata, "Kami akan membuka layanan direct call. Ini akan menghemat, bla, bla, bla," kata eksekutif perusahaan pelabuhan. Sementara, eksekutif operator pelayaran merespon dengan pernyataan, "Kami mendukung direct call yang ada, bla, bla, bla.

Singkat cerita, direct call adalah sebuah prestasi yang layak dibanggakan dan pencapaiannya merupakan salah satu indikator kinerja kunci (key performance index) bisnis kemaritiman nasional, khususnya sektor pelabuhan. Sampai di sini tidak ada yang bisa mendebat narasi tersebut.

Sayangnya, dari sekian banyak layanan pelayaran langsung yang ada di empat pelabuhan utama di Indonesia, yakni Tanjung Priok, Tanjung Perak, Belawan dan Makassar, perkembangannya biasa-biasa saja sejak diluncurkan.

Artinya, keberadaan layanan direct call yang secara teoritis seharusnya mampu mendongkrak perekonomian port of origin, yang dibuktikan dengan tingkat keterisian kargo atau load factor yang terus tumbuh. Ternyata pada pelaksanaannya tidak seimbang. Kapasitas terpasang kapal, misalnya, 4.000 twenty foot equivalent unit (TEU) namun pada saat sandar di salah satu pelabuhan nasional yang membuka layanan pelayaran langsung menggunakan pelayaran yang bersangkutan, hanya terisi 1.000 TEU atau bahkan kurang dari jumlah itu.

Kehadiran direct call dan narasi yang menyertainya rupanya tidak seindah yang dipikirkan sebelumnya. Masih terdapat loophole dalam narasi tersebut. Pertanyaannya, bagaimana layanan direct call harus dimaknai? Apa saja kelemahannya?

Direct call atau pelayaran langsung adalah istilah yang lazim dipakai dalam bisnis pelayaran peti kemas. Bidang usaha yang satu ini dicirikan oleh karakteristik utamanya, yaitu: keteraturan (regularity). Diwujudkan dalam keteraturan jadwal pelayaran, pelabuhan tujuan, hingga biaya pengapalan alias freight.

Dari keteraturan ini lalu muncullah istilah liner, yakni kapal berjadwal tetap sebagai antonim dari tramper atau kapal tidak berjadwal tetap. Tapi, perlu digarisbawahi bahwa liner tidak hanya dikhususkan untuk bisnis kontainer saja. Pelayaran lain, seperti kapal pesiar juga menyematkan kata liner (De Kerchove, 1961).

Pengoperasian kapal dari dan ke pelabuhan tertentu secara teratur tadi memunculkan satu istilah lain yang dikenal dengan nama pendulum service. Ibarat bandul jam, kapal-kapal peti kemas yang dioperasikan menurut model ini bergerak dari ujung satu ke ujung lainnya dan mereka akan bersandar (call) pada setiap pelabuhan yang terdapat dalam rentang ayunan pendulum/bandul. Biasanya, ada tiga hingga lima pelabuhan.

Ada anggapan bahwa muatan yang berasal dari pelabuhan-pelabuhan nasional yang dikapalkan dengan skema direct call berarti kapal akan berlayar langsung (direct) dari, katakanlah, Tanjung Priok di Jakarta, menuju Ningbao di China, tanpa perlu singgah atau transit terlebih dahulu di pelabuhan lain. Jika ini yang terjadi, sebut saja model ini dengan istilah point-to-point, biayanya akan sangat mahal bagi pemilik kapal di Tanah Air.


Reporter: Harian Kontan
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0013 || diagnostic_api_kanan = 0.0033 || diagnostic_web = 0.2748

Close [X]
×