kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.595
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS610.041 0,33%

Membuat konsumen asuransi terlindungi

Selasa, 30 Oktober 2018 / 14:08 WIB

Membuat konsumen asuransi terlindungi



Penundaan pembayaran polis jatuh tempo oleh Asuransi Jiwasraya sempat heboh. Sebagian informasi yang beredar, BUMN asuransi tersebut dianggap gagal bayar. Padahal, sejatinya adalah menunda pembayaran.

Dari sisi konsumen, info kegagalan lembaga jasa keuangan dalam memenuhi kewajibannya memang menjadi momok. Rentan memicu ketidakpercayaan. Untuk itu, konsumen pun perlu informasi yang valid.

Maklum, perlindungan konsumen tetap menjadi isu di industri jasa keuangan (IJK). Beberapa kasus konsumen yang merasa tertipu mencuat. Misalnya dalam kasus investasi bodong.

Perlindungan konsumen di industri perasuransian sendiri memiliki tiga lini pertahanan. Pertahanan pertamaBada di konsumen itu sendiri. Konsumen diharapkan mampu melindungi dirinya sendiri. Konsumen dituntut memahami produk dan jasa yang dibelinya. Tahan terhadap godaan iming-iming yang tidak rasional.

Lini pertahanan kedua adalah dari perusahaan asuransi yang bersangkutan. Kok bisa? Iya, perusahaan asuransi berperan dalam perlindungan konsumen. Di dalam asuransi, ada prinsiputmost good faith. Prinsip ini menyatakan tertanggung (konsumen) dan perusahaan asuransi harus punya itikad baik dalam membuat kontrak asuransi. Juga, secara inheren, ketika layanan dan kinerja perusahaan asuransi bagus, otomatis turut melindungi konsumen.

Di dalam Undang Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen disebutkan kewajiban pelaku usaha untuk melindungi konsumen. Contoh, memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan atau jasa. Selain memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan dari produk dan jasa yang bersangkutan.

Lini pertahanan ketiga adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2011, OJK memiliki kewenangan dalam perlindungan konsumen. Yang dilakukan berupa upaya preventif melalui edukasi kepada masyarakat atas karakteristik sektor jasa keuangan, layanan, dan produknya. OJK juga mewajibkan industri jasa keuangan melakukan edukasi dan membuat konsumen tidak dirugikan karena asimetri informasi yang dimilikinya.

Fungsi pengaduan konsumen OJK dilakukan untuk membantu konsumen. Industri jasa keuangan dan konsumennya memiliki kontrak atau perjanjian. Dan ada, kemungkinan muncul dispute di antara kedua pihak.

Sejatinya, fasilitasi yang dilakukan OJK atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa (LAPS) selama ini telah memberi arti bagi konsumen. Jadi konsumen tidak lagi sendiri saat bersengketa dengan industri jasa keuangan. Ada lembaga lain sebagai penengah yang adil.

Data Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia menunjukkan realisasi hasil mediasi dan ajudikasi yang dilakukan selama tahun 2015–2017 sebanyak 145 kasus. Lembaga yang berdiri sejak tahun 2006 ini telah membantu baik konsumen maupun perusahaan asuransi dalam menyelesaikan sengketa.

OJK pun mendorong penyelesaian sengketa dilakukan melalui LAPS. Selain melalui LAPS, penyelesaian pengaduan konsumen ke OJK juga berjalan baik. Sejak tahun 2013, tercatat ada 1.023 pengaduan asuransi yang diselesaikan OJK.

Hasil survei persepsi kinerja OJK 2017, mengonfirmasi manfaat yang dirasakan oleh konsumen atas peran OJK. Tahun lalu, kinerja bidang edukasi dan perlindungan konsumen mendapatkan indeks persepsi 4,81 (dari skala 6).


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0534 || diagnostic_web = 0.3842

Close [X]
×