kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.24%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.39%

Membuka Ekonomi

oleh S.S. Kurniawan - Redaktur Pelaksana


Senin, 18 Mei 2020 / 09:54 WIB
Membuka Ekonomi
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Perekonomian dunia kembali berdetak, meski masih sangat lemah. Semakin banyak negara melonggarkan penguncian, populer dengan sebutan lockdown, yang ketat secara bertahap untuk mengekang penyebaran virus korona baru, penyebab penyakit Covid-19.

Spanyol, misalnya. Negara Eropa yang sempat mencatat kasus virus korona tertinggi di dunia ini mengizinkan beberapa bisnis, termasuk konstruksi dan manufaktur, untuk beroperasi kembali mulai 13 April lalu, seiring penurunan jumlah kasus dan kematian harian.

Singapura yang Jumat (15/5) pekan lalu hanya mengonfirmasi satu kasus di masyarakat juga merelaksasi pembatasan sosial yang mereka sebut pemutus sirkuit. Walau, kasus yang melibatkan pekerja asing di asrama buruh migran masih tinggi, yang mengantarkan angka infeksi Negeri Merlion tertinggi di Asia Tenggara, dengan lebih dari 28.000 per Minggu (17/5). Mulai 12 Mei lalu, misalnya, layanan binatu dan tukang cukur bisa beroperasi kembali.

Thailand juga. Negeri Gajah Putih yang melaporkan nol kasus virus korona pada 13 Mei lalu, pertama kali sejak 9 Maret, melonggarkan pembatasan. Mulai 3 Mei, negara yang menerapkan jam malam ini membolehkan enam kegiatan dan bisnis, termasuk restoran, kafe, dan pasar, untuk bergulir kembali.

Indonesia? Negara kita tidak menerapkan pembatasan yang ketat. Meski sejumlah daerah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), banyak bisnis yang sebetulnya tidak boleh buka tetap beroperasi seperti biasa.

Toh, pemerintah sedang menggodok tahapan pemulihan ekonomi nasional. Mengacu ke kajian awal, tahapan pemulihan ekonomi bergulir 1 Juni. Khusus pasar dan mal buka kembali mulai 8 Juni.

Bahkan, Menteri BUMN Erick Thohir memerintahkan perusahaan-perusahaan pelat merah untuk beroperasi kembali secara bertahap mulai 25 Mei nanti. Itu tertuang dalam surat edaran kepada seluruh direktur utama BUMN tertanggal 15 Mei 2020 bertajuk Antisipasi Skenario The New Normal BUMN.

Yang jadi masalah, kasus virus korona di Indonesia masih dalam tren mendaki. Sejak 6 April hingga 8 Mei, infeksi harian ada di kisaran 200-400 kasus. Lalu, pada 9-17 Mei berada di rentang 200-600 kasus, dengan rekor tertinggi mencapai 689 kasus di 13 Mei lalu.

Dengan tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap protokol kesehatan, jelas sebuah risiko sangat besar untuk membuka ekonomi dalam waktu dekat.

Penulis : S.S. Kurniawan

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×