kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45788,56   1,37   0.17%
  • EMAS1.011.000 -0,10%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.11%

Memoles Nikel

oleh Harris Hadinata - Redaktur Pelaksana


Kamis, 15 Oktober 2020 / 12:10 WIB
Memoles Nikel
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Lebih dari satu dekade silam, ekonomi Indonesia sempat melesat berkat kenaikan harga komoditas. Salah satu komoditas andalan Indonesia saat itu adalah batubara. Harga komoditas energi ini melesat tinggi. Harga saham perusahaan produsen batubara pun melesat tajam ketika itu.

Ke depan, komoditas berpotensi kembali menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Tapi, kali ini ujung tombaknya bukan batubara. Morgan Stanley, dalam risetnya menyebutkan, nikel berpeluang menjadi komoditas utama Indonesia. Ini seiring meningkatnya kebutuhan komoditas ini untuk produksi kendaraan listrik.

Pemerintah Indonesia juga bergerak cepat memanfaatkan tren meningkatnya minat terhadap kendaraan listrik. Indonesia berniat mendirikan perusahaan induk yang memproduksi baterai bagi kendaraan listrik. Namanya PT Indonesia Battery. Perusahaan ini akan menjalankan bisnis baterai kendaraan listrik dari hulu sampai hilir.

Rencananya, pembangunan pabrik listrik tersebut akan dipimpin Mind ID, perusahaan induk BUMN tambang, melalui PT Aneka Tambang Tbk, bersama dengan PT Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Bila berjalan lancar, strategi ini bisa berdampak positif bagi ekonomi dalam negeri di masa depan. Apalagi, Indonesia masih tercatat sebagai produsen nikel terbesar di seluruh dunia.

Menurut data Badan Geologi Kementerian ESDM, di 2019 lalu produksi nikel Indonesia mencapai 800.000 ton Ni. Jumlah ini setara sekitar 30% produksi nikel dunia di periode tersebut.

Permintaan mobil listrik juga terus meningkat pesat. Di Eropa, selama semester satu lalu, pangsa pasar mobil listrik meningkat tiga kali lipat. Di saat yang sama, penjualan mobil konvensional turun.

Menurut riset perusahaan riset energi Bloomberg NEF, penjualan mobil listrik melesat tajam dari 450.000 di 2015 menjadi 2,1 juta di 2019. Tahun ini, penjualan diprediksi turun jadi 1,7 juta unit akibat pandemi korona. Tapi, di 2025, penjualan diproyeksi melesat jadi 8,5 juta dan mencapai 26 juta di 2030.

Dengan proyeksi itu, permintaan nikel juga akan naik. Harga pun melambung. Sepanjang tahun ini saja, harga nikel sudah naik 7,23% jadi US$ 15.040 per ton, Selasa (13/10). Harga nikel sempat mencapai rekor US$ 15.706 per ton pada 2 September lalu. Jadi, tidak aneh kalau nikel akan menjadi komoditas andalan Indonesia di masa depan.

Penulis : Harris Hadinata

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×