kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.005
  • EMAS703.000 -0,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Mempermainkan komoditas jagung


Rabu, 30 Januari 2019 / 12:55 WIB

Mempermainkan komoditas jagung

Kementerian Perdagangan telah menerbitkan izin impor jagung sebesar 440.000 ton. Jagung impor ini khusus dialokasikan untuk kebutuhan industri.

Sebanyak enam perusahaan telah mendapatkan alokasi jagung impor pada semester pertama 2019. Sebelumnya, pemerintah juga telah memberikan izin impor jagung kepada Perum Bulog sebesar 130.000 ton untuk memenuhi kebutuhan pakan pada industri kecil. Impor tersebut dilakukan dalam dua tahap, yaitu 100.000 ton pada akhir tahun 2018 dan 30.000 ton pada awal 2019.

Seperti biasa kebijakan impor jagung ini menuai pro dan kontra. Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memberikan pembelaan yang bertolak belakang dangan klaim Kementerin Pertanian yang menyatakan bahwa produksi jagung nasional lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menurut Darmin, panen jagung yang terjadi sampai April 2019 mendatang belum tentu bisa menutupi kebutuhan nasional. Sehingga impor menjadi satu-satunya cara bagi pemerintah untuk menekan lonjakan harga jagung.

Masalahnya, tingginya harga jagung akan berimbas pada kenaikan harga telur dan daging ayam. Padahal kedua jenis komoditas tersebut sangat dibutuhkan masyarakat.

Ilustrasinya, peternak di Indonesia sebagian besar adalah peternak kecil yang jarang memiliki gudang penyimpanan jagung dalam jumlah besar. Sehingga, begitu terjadi kekurangan stok akan langsung mempengaruhi harga.

Saat ini harga jagung lokal masih di atas Rp 5.000 per kg, sedangkan harga jagung impor hanya Rp 4.000 per kg. Pemerintah khawatir tanpa impor, harga jagung bisa kembali naik hingga mencapai Rp 8.000 per kg.

Sementara Kementan yakin panen jagung kuartal I-2019 ini cukup besar dan akan mempengaruhi penurunan harga. Berdasarkan angka ramalan Kementan, akan ada produksi sebesar 1,78 juta ton pipilan kering (PK) jagung pada bulan Januari 2019.

Angka produksinya akan meningkat pada bulan depan hingga mencapai 4,8 juta ton dan turun lagi menjadi 3,6 juta ton pada bulan Maret 2019. Adapun kebutuhan jagung diperkirakan sekitar 16 juta ton tahun ini. Sementara tahun lalu kebutuhan jagung nasional mencapai 15,5 juta ton. Perinciannya sebesar 7,76 juta ton untuk pakan ternak, 2,52 juta ton peternak mandiri, 120.000 ton benih, dan sisanya 4,76 juta ton untuk industri pangan.

Jika mengacu pada prediksi Kementan tersebut, rata-rata kebutuhan jagung setiap bulan di tahun ini hanya 1,3 juta ton, masih lebih kecil dibandingkan produksi 1,78 juta ton. Bahkan, bulan depan akan ada jutaan ton produksi jagung yang akan membanjiri pasar.

Namun kontrasnya, Kementan kali ini tak mengambil posisi "menentang". Menurutnya, impor tidak perlu terlalu dipermasalahkan karena volumenya kecil, dan hanya akan digunakan sebagai stok.

Kendati demikian, permasalahan impor tersebut masih menjadi perdebatan antara Kementerian Perdagangan dengan Badan Urusan Logistik (Bulog). Sebagai pelaksana, hingga kini Bulog belum juga menjalankan keputusan impor tersebut.


Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0587 || diagnostic_web = 0.3472

Close [X]
×