kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.275
  • EMAS682.000 0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Menakar kemunculan unicorn fintech

Kamis, 03 Januari 2019 / 15:54 WIB

Menakar kemunculan unicorn fintech

Industri digital tanah air patut berbangga diri. Sebab dari tujuh unicorn di kawasan Asia Tenggara, lebih dari setengahnya asal Indonesia. Tokopedia, Gojek, Traveloka, dan Bukalapak jadi simbol supremasi ini.

Menariknya, kini usaha rintisan di bidang teknologi finansial (Tekfin) atau financial technology (fintech) juga digadang-gadang bakal menjadi unicorn Indonesia selanjutnya. Harus kita akui pertumbuhan jumlah pengguna smartphone yang kian masif dan rendahnya tingkat inklusi keuangan, menjadi cermin besarnya potensi industri ini di masa depan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah pinjaman yang disalurkan oleh fintech peer to peer (P2P) lending per Oktober 2018 sebesar Rp 16 triliun. Nilai tersebut melonjak 525% dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2017 yang baru Rp 2,56 triliun.

Kondisi serupa juga terlihat pada fintech pembayaran. Berdasarkan statistik Bank Indonesia (BI), nilai transaksi jenis fintech ini pada 2017 mencapai US$ 18,65 miliar (Rp 251,78 triliun), naik 24,17% dari tahun sebelumnya sebesar US$ 15,02 miliar (Rp 202,77 triliun).

Meskipun menjanjikan prospek pertumbuhan positif, namun hal ini tidak secara otomatis melegitimasi industri fintech berkembang tanpa melalui jalan terjal. Terlepas dari polemik maraknya pemberitaan keluhan konsumen fintech, seperti adanya penyalahgunaan data nasabah serta penagihan tanpa etika, kita patut mencermati tantangan pelaku fintech dalam negeri dari sisi konfigurasi industri.

Pertama, karakteristik industri ini menyerupai struktur pasar persaingan sempurna. Jumlah penjual dan pembeli yang banyak menjadi ciri utamanya. Artinya, dengan asumsi kondisi ceteris paribus pangsa pasar yang dikuasai oleh masing-masing penjual (pelaku fintech) relatif terbatas. Kapasitas bisnis penjual juga sulit membesar.

Teori ekonomi menyebutkan penjual dalam bentuk pasar ini hanya akan memperoleh laba normal dalam jangka panjang. Imbasnya industri fintech mungkin tidak akan menjadi prioritas investor untuk dilirik.


Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Terpopuler
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0476 || diagnostic_web = 0.3932

Close [X]
×