Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.185
  • SUN95,68 0,05%
  • EMAS667.500 0,15%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Mendamba demokrasi konstruktif

Rabu, 06 Maret 2019 / 12:59 WIB

Mendamba demokrasi konstruktif

Pemilihan umum (pemilu) semakin dekat. Kini masyarakat dihadapkan dengan berbagai pilihan yang ditawarkan partai-partai politik.

Pilihan ini mulai dari yang sifatnya ideologis seperti platform partai, visi dan misi partai, program-program kerja, dan rekam jejak calon yang diusung oleh partai politik, entah di tingkat kabupaten/kota, provinsi, atau nasional dalam pemilihan presiden. Namun, tidak sedikit pula yang pragmatis, mulai dari popularitas sang kandidat yang kebetulan adalah mantan artis atau aktor, menjual isu sektarian, primordial, dan hal-hal lainnya

Sayangnya, secara natural masyarakat Indonesia yang multikultural ini, penekanan penjaringan aspirasi para pemilih dengan mengandalkan sisi-sisi pragmatisme. Misalnya berpolitik yang menonjolkan perbedaan suku, agama, ras, dan dibumbui dengan sikap konfrontatif sehingga menjadikan pemilu sebagai sebuah momok. Padahal, pemilu adalah bagian inheren demokrasi, seharusnya menjadi festival kebangsaan yang hangat dan ceria.

Namun, alih-alih menjadi sebuah pesta demokrasi, pemilu kerap dipersamakan dengan perang. Mulai dari perang yang membawa sentimen kebudayaan seperti analogi Mahabarata, dimana ada satu sisi yang disimbolkan sebagai para Pandawa yang protagonis dan sisi lainnya dianggap sebagai kaum Kurawa yang antagonis.

Ada juga, yang mengambil sisi dari sudut religi yang mempersamakan pemilu dengan salah satu dari beberapa perang keagamaan di masa silam, entah itu perang badar, perang uhud, sampai perang salib. Bahkan, untuk menghadapi lawan politiknya, masing-masing kubu pun menggunakan pendekatan perang, entah strategi total war atau strategi frontal war. Padahal, jika para elite politik tidak hati-hati, justru perang yang sedang menanti bangsa ini adalah perang paregreg.

Dalam sejarah bangsa kita, Kerajaan Majapahit yang jaya nan digdaya pun tercatat pada akhirnya runtuh. Sekalipun para ahli sejarah masih memperdebatkan penyebabnya keruntuhan Majapahit, namun yang pasti banyak yang sepakat bahwa Perang Paregreg sebagai salah satu penyebab runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Perang Paregreg, perlahan tapi pasti, memastikan berakhirnya hegemoni Majapahit atas nusantara. Nengah Bawa Atmadja (2010) dalam Genealogi Keruntuhan Majapahit, mencatat bahwa perang saudara yang berlarut-larut mengakibatkan Majapahit sangat lemah, sehingga gagal mengontrol wilayah kekuasaannya.

Padahal, perang yang bermula dari soal suksesi kekuasaan di Majapahit pasca Hayam Wuruk ini seharusnya bisa diatasi. Karena para pihak yang bertikai sejatinya masih keluarga kerajaan.

Walaupun pada akhirnya ada salah satu pihak yang memenangkan pertarungan, namun kemenangan ini justru awal dari kekalahan yang lebih besar dan proses berkelanjutan dari perpecahan (B.J.O. Schrieke 2016:79).

Dalam konteks historis bangsa kita, sudah sepatutnya kita belajar bahwa kerajaan digdaya yang besar, hancur bukan melulu karena faktor eksternal, namun justru harus tersungkur karena gagal mengelola konflik internalnya. Dalam pengertian inilah, pemilihan demokrasi sebagai sistem pemerintahan ditujukan untuk meminimalisir atau bahkan menihilkan sama sekali peperangan antar sesama anak bangsa.

Demokrasi kita, yang jadi impian berdasarkan Pancasila seharusnya dimaknai betul sebagai sebuah cara beradab untuk menghindarkan bangsa kita dari perang berkepanjangan. Betapapun heroiknya sebuah perang, tetaplah ia akan berujung pada penderitaan. Akankah kita menukarkan keutuhan dan kesejahteraan bangsa ini demi sebuah romantisme peperangan dan heroisme yang berdarah-darah?


Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.4380 || diagnostic_web = 1.3220

Close [X]
×