Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.195
  • SUN90,77 -0,26%
  • EMAS623.158 -0,48%

Mendisrupsi bankabilitas zaman old

Senin, 12 Februari 2018 / 15:00 WIB

Mendisrupsi bankabilitas zaman old



Ada banyak pihak yang menyandera perbankan Indonesia sehingga belum kompetitif dalam beroperasi. Diantaranya struktur organisasi bank kita yang cenderung melebar dan kegemukan. Bandingkan dengan struktur perusahaan tekfin peer to peer lending (P2P) yang sangat langsing. Tak hanya itu, kita lihat juga unit non-bisnis di perbankan (cost center) lebih banyak ketimbang unit bisnis yang menjadi profit center.

Selain itu, investasi perbankan untuk memperluas jangkauan operasional melalui pembukaan kantor cabang dan menempatkan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) untuk melayani kebutuhan nasabah di daerah masih sangat besar. Hal ini disebabkan masih banyak nasabah lebih suka mendatangi kantor cabang atau pakai fasilitas ATM ketimbang menggunakan saluran elektronik (mobile banking dan internet banking).

Masih ada penyebab lain yang membuat perbankan tidak cukup efisien. Seperti gaji tinggi para bankir di Indonesia rata-rata Rp 12 miliar per tahun. Dua kali lipat dari bankir Malaysia dan hampir 12 kali lipat dari bankir Filipina. Bankir Malaysia hanya mendapat gaji Rp 5,6 miliar dan di Filipina  cuma Rp 1,1 miliar setahun. Direksi bank di Indonesia juga mendapat remunerasi sangat tinggi di  antara negara di ASEAN.

Yang menyedihkan, gaji para pelaksana operasional yakni karyawan bank di Indonesia justru kalah jauh dari negara tetangga. Karyawan bank di Thailand digaji sampai Rp 300 juta per tahun. Karyawan bank di Malaysia digaji Rp 236 juta per tahun. Sedangkan di Indonesia hanya Rp 193 juta per tahun. Kita cuma unggul sedikit dari Filipina sebesar Rp 93 juta per tahun. Di sisi lain, komposisi biaya sumber daya manusia terhadap overhead costs perbankan di Indonesia menduduki peringkat tertinggi dengan persentase 2,44% terhadap total biaya perbankan. Sementara Filipina 1,81%, Malaysia 1,74%, dan Thailand 1,34%.

Sementara itu, hampir mirip dengan transportasi online yang penuh tantangan, industri tekfin P2P lending terus berkembang. Digerakan oleh anak muda, industri ini mencoba “menggoyang” gaya konservatif dan ortodoks perbankan nasional.  Saat ini cara, pola, lembaga lama, dan pendekatan lama tidak lagi sanggup menjawab kebutuhan pembiayaan di lapangan. Buktinya, kebutuhan pembiayaan (pinjaman) nasional mencapai Rp 1.600 triliun. Namun perbankan nasional hanya mampu melayani sekitar Rp 600 triliun. Artinya ada sekitar Rp 1.000 triliun pasar pembiayaan yang “haus” menyerap dana  perbankan. Di sisi lain, ada undisbursed loan sebesar Rp 1.400,45 triliun masih tersangkut di bank. Benar-benar mubazir.


TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0045 || diagnostic_api_kanan = 0.0647 || diagnostic_web = 0.4290

Close [X]
×