kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Mendorong start up ke arah go public


Kamis, 26 Juli 2018 / 13:33 WIB

Mendorong start up ke arah go public
ILUSTRASI. ILUSTRASI OPINI - Mendorong Start Up ke Arah Go Public

Saat ini usaha rintisan (start up) di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, dari segi kuantitas maupun kualitas. Masuknya investor global juga mendorong laju pertumbuhan industri ini. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan, selama tahun 2017 total suntikan dana asing ke sejumlah start up mencapai US$ 4,8 miliar dollar atau kurang lebih Rp 64,8 triliun. Tidak heran jika kemudian beberapa rintisan lokal, seperti Go-Jek, Tokopedia dan Traveloka, berhasil memperoleh predikat Unicorn.

Kontradiktif dengan kondisi tersebut, belum banyak perusahaan rintisan yang go public lewat penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO). Hingga kini, baru tiga perusahaan bidang teknologi dan e-commerce yang mencatatkan namanya di papan bursa: MCAS, NFCX, dan KIOS (Harian KONTAN, Juli 2018). Para unicorn justru belum listing ke bursa.

Salah satu aturan utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyulitkan start up bisa listing di bursa adalah ketentuan perusahaan harus sudah menghasilkan laba pada satu tahun buku terakhir (di papan utama). Atau proyeksi dua tahun harus menghasilkan laba (papan pengembangan).

Berbeda dengan bisnis konvensional, perusahaan start up pada umumnya pada tahap awal lebih berfokus pada pertumbuhan (growth) daripada keuntungan (profit). Dilihat dari segi model bisnis dan juga siklus usahanya, strategi mereka adalah mengakumulasi user base secara masif di awal, baru kemudian melakukan monetisasi atas bisnis mereka. Konsekuensinya, tidak segan-segan investor start-up menggelontorkan dana besar sebagai kompensasi strategi pertumbuhan itu. Misalnya, banyak start up memberikan gimmick diskon harga besar-besaran. Konsekeuensinya, hampir sebagian besar perusahaan start-up mencatatkan rugi dalam beberapa tahun awal operasi.

Bisa dipahami, ketentuan menghasilkan laba memang menjadi syarat penting bagi perusahan yang ingin listing di bursa. Hal ini merupakan tugas BEI sebagai self-regulating body memberikan keamanan bagi investor. Seorang investor yang menanamkan uang di pasar saham tentu dengan keinginan mendapatkan potensi keuntungan (gain) baik dari pembayaran dividen maupun dari apresiasi nilai saham yang dibeli. Sebuah bisnis yang terus-terusan merugi tentu tidak akan sustainable dan tidak akan mampu memberikan gain bagi investor.

Dari sisi perusahaan, IPO adalah salah satu cara untuk memperoleh pendanaan untuk ekspansi dan me- leverage skala bisnis untuk meningkatkan profit. Berbeda dengan pinjaman, IPO tidak menimbulkan beban bunga bagi perusahaan yang dapat menggerus profit. IPO hanya mendilusi persentase kepemilikan saham para investor awal karena sebagai konsekuensinya bertambahnya saham beredar (outstanding shares). IPO ini juga memberikan kesempatan bagi masuknya investor baru ke dalam perusahaan, baik investor institusional maupun individu.

Lantaran perusahaan start up punya potensi, tentu masuk akal bia BEI memberi harapan bagi start-up agar bisa listing. Tanpa adanya kemudahan, start up sulit meraih pendanaan dan berkembang dan tetap menjadi milik investor asing.

Salah satu bentuk kemudahan yang bisa ditawarkan BEI adalah memberikan relaksasi untuk ketentuan atas periode kerugian. Misalnya memperpanjang periode loss dari dua tahun menjadi lima tahun khusus untuk perusahaan start-up.

Lainnya dengan membuat alternatif standar persyaratan listing layaknya di New York Stock Exchange (NYSE). Sebagai contoh ketentuan harus sudah untung bisa digantikan dengan syarat jumlah pendapatan (revenue) yang signifikan lebih besar dari ketentuan normal.

Contoh terbaru adalah bagaimana Dropbox Inc dan Spotify berhasil listing di bursa kendati masih membukukan rugi. Lebih jauh, lebih dari tiga perempat dari total 108 perusahaan yang berhasil IPO di Amerika tahun 2017 melaporkan kerugian sebelum listing di bursa saham (Wall Street Journal, Maret 2018).


Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0611 || diagnostic_web = 0.3809

Close [X]
×