kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Menelisik dampak ekonomi pilkada


Selasa, 22 Mei 2018 / 13:06 WIB

Menelisik dampak ekonomi pilkada


KONTAN.CO.ID - Perhelatan pemilu langsung 2018 sebanyak 171 pilkada pada bulan Juni mendatang setidaknya bisa membawa keuntungan ekonomi sekitar Rp 91 triliun. Manfaat ekonomi tersebut berasal dari belanja pemerintah untuk urusan pilkada tersebut serta dana belanja kampanye pasangan calon. Namun demikian, sejalan dengan semakin menguatnya friksi yang terjadi di tengah masyarakat saat ini, bisa saja keuntungan ekonomi yang bisa didapat tersebut dan sudah ada di depan mata bisa langsung sirna dalam sekejap.

Anggaran pemerintah untuk pelaksanaan pilkada serentak 2018 sendiri setidaknya mencapai sekitar Rp 20 triliun yang diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Sedangkan pengeluaran para pasangan calon atau paslon yang bertarung sekitar Rp 14 triliun.

Angka tersebut penulis hitung dengan asumsi masing-masing daerah memiliki dua pasangan calon (asumsi minimal). Selanjutnya, pada tingkat kabupaten-kota, dana kampanye yang dikeluarkan oleh satu pasangan calon mencapai masing-masing Rp 3 miliar. Sedangkan untuk tingkat provinsi, per pasangan calon bisa mengeluarkan dana kampanye sebesar Rp 400 miliar.

Apabila ada 154 kabupaten/kota, maka akan diperoleh biaya kampanye sebesar Rp 924 miliar. Sedangkan di level provinsi, dari 17 provinsi yang akan mengelar pilkada 2018 diperoleh dana kampanye sebesar Rp 13,6 triliun. Jadi total anggaran pilkada 2018 baik dari pemerintah maupun para peserta pilkada kira-kira sebesar Rp 34,5 triliun.

Dalam teori ekonomi makro disebutkan bahwa setiap kegiatan konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah dalam perekonomian akan menghasilkan efek pengganda. Konsumsi masyarakat dalam hal ini dicerminkan dari belanja pasangan calon untuk kampanye. Belanja pemerintah dicerminkan dari anggaran untuk pemilu 2018.

Perhitungan efek ekonomi dari pemilu 2018 di tulisan ini dihitung menggunakan data input-output 2010. Besaran anggaran pesta demokrasi 2018 dijadikan sebagai shock-nya (besaran permintaan yang muncul dari belanja pemerintah dan konsumsi untuk menghitung tambahan output dalam ekonomi).

Lebih lanjut, tambahan output dalam perekonomian tersebut didasarkan pada asumsi bahwa belanja pemilu digunakan untuk belanja di sektor industri pengolahan sekitar Rp 14 triliun. Belanja di sektor industri ini antara lain ditujukan untuk membeli atribut pemilu semisal kaos, baliho, suvenir dan percetakan.

Pos belanja berikutnya adalah belanja untuk ongkos transportasi sekitar Rp 5 triliun. Ongkos transportasi semisal penyewaan pesawat, sewa mobil untuk mobilisasi massa dan sewa operasional kendaraan tim sukses di masa kampanye. Selanjutnya belanja penyediaan makanan dan minuman sekitar Rp 10 triliun. Pengeluaran di pos ini digunakan antara lain untuk penyediaan makanan saat rapat umum di alun-alun serta rapat umum di hotel serta.

Pengeluaran berikutnya ditujukan di sektor jasa penyiaran dan pemrograman, film dan hasil perekaman suara sekitar Rp 5 triliun dan belanja di sektor administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib sebesar Rp 20 triliun.

Pada jasa penyiaran, dana kampanye, baik dari pemerintah dan pasangan calon, digunakan untuk media iklan. Pemerintah di iklan masyarakat terkait pemilu dan pasangan calon terkait iklan program ataupun pasangan calon yang bersangkutan. Pada sektor terakhir, belanja digunakan antara lain untuk honor panitia pengawas pemilu (panwaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Namun adanya friksi di tengah masyarakat yang muncul pasca pemilu presiden (pilpres) tahun 2014 bisa menggerogoti keuntungan ekonomi pilkada 2018. Bahkan, bisa memicu kerugian lebih besar dari angka keuntungan yang didapat.

Kerugian ini muncul dari konflik antarkelompok masyarakat yang sewaktu-waktu bisa muncul selama masa kampanye dan pasca pencoblosan. Kerugian ini timbul dari rusaknya bangunan publik dan pribadi milik masyarakat, terhentinya layanan publik, terhentinya aktifitas ekonomi dan korban luka-luka.


Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0016 || diagnostic_api_kanan = 0.0023 || diagnostic_web = 0.1526

Close [X]
×