kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.237
  • EMAS623.158 -0,48%

Mengatasi blokade efek gempa Palu

Rabu, 03 Oktober 2018 / 15:29 WIB

Mengatasi blokade efek gempa Palu



Bencana gempa bumi yang terjadi beruntun di tanah air membutuhkan sistem dan metode pertolongan yang cepat untuk evakuasi para korban. Gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah (Sulteng) menyebabkan kehancuran total berbagai infrastruktur dan perumahan. Kondisi pelabuhan dan bandara mengalami kerusakan serta terputusnya jalur transportasi darat akibat jembatan rusak berat hingga badan jalan amblas dan terbelah.

Gempa Sulteng menimbulkan gelombang tsunami hingga enam meter yang menerjang kawasan hunian di sekitar pantai. Sedang di daerah perbukitan kawasan perumahan terjadi fenomena retakan tanah yang disertai semburan lumpur yang deras dari dalam bumi. Akibatnya banyak perumahan rakyat yang amblas lalu tenggelam oleh lumpur.

Perlu penanganan yang cepat untuk mengatasi blokade bencana alam. Dalam kondisi pemerintah daerah yang tidak berdaya alias lumpuh peran totalitas Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mengatasi blokade bencana sangat dibutuhkan. Terutama untuk mengatasi infrastruktur yang hancur lebur.

TNI harus mampu mewujudkan kesiapan menghadapi bencana secara nasional atau national disaster preparadness (NDP). Pengembangan personel dan alutsista TNI yang sedang dilakukan saat ini harus disertai dengan kemampuan operasi non perang untuk penanganan bencana alam.

Pengerahan secara besar-besaran personel TNI miliki peran penting untuk mempersingkat durasi penanganan bencana. Seperti pembuatan infrastruktur jalan, jembatan, bangunan air, kelistrikan dan perumahan korban bencana. Masalah tahapan rekonstruksi dan rehabilitasi korban bencana juga memerlukan solusi teknis yang optimal.

Manajemen penanganan kerusakan bangunan dan upaya evakuasi korban membutuhkan alat berat. Jumlah alat berat yang dibutuhkan sangat banyak, di lain sisi telah terjadi blokade bencana seperti jalan dan jembatan rusak. Sebagai solusi untuk mengatasi blokade bencana adalah lewat laut yang mengedepankan peran logistik KRI oleh Kolinlamil (Komando Lintas Laut Militer). Instansi ini memiliki kapal dengan tonase besar seperti KRI Arun yang mencapai 11.000 ton, KRI Makassar 7.000 ton dan KRI Surabaya 11.400 ton.

Bencana gempa bumi yang terjadi berulang kali di Tanah air mestinya semakin memperbaiki manajemen penanganan bencana. Perlu mengadopsi manajemen proyek modern sehingga bisa mereduksi durasi penanganan bencana alam.

Durasi lebih mengedepankan kerangka waktu dan biaya yang digunakan untuk memilih aktivitas mana yang akan crash. Ini sebuah istilah yang muncul di dalam kamus manajemen proyek infrastruktur modern untuk memperpendek atau mempersingkat durasi aktivitas atau proyek di luar waktu normal.


OPINI

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.5651 || diagnostic_web = 2.6830

Close [X]
×