kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,14   -3,74   -0.39%
  • EMAS956.000 -0,21%
  • RD.SAHAM -1.46%
  • RD.CAMPURAN -0.55%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Mengerem Pemulihan

oleh Syamsul Ashar - Redaktur Pelaksana


Kamis, 07 Januari 2021 / 09:30 WIB
Mengerem Pemulihan
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Pemerintah kembali mengambil kebijakan yang tidak populis untuk menyelamatkan kesehatan masyarakat menghadapi pandemi virus korona (Covid-19). Mulai 11-25 Januari, pemerintah akan mengetatkan lagi pergerakan masyarakat di Pulau Jawa dan Bali, demi menekan penyebaran virus korona yang makin masif dalam beberapa pekan terakhir.

Di sisi lain tingkat kepatuhan masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan sejak pertengahan Desember 2020 lalu turun drastis. Banyak masyarakat makin mengabaikan penerapan 3M, menggunakan masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan, serta mencuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun.

Pemantauan oleh Satgas Covid di tempat-tempat wisata saat libur akhir tahun sangat buruk. Kunjungan ke tempat pariwisata meningkat 68,59% jelang liburan. Sementara saat libur Natal naik 34% dan libur Tahun baru 2021 kembali meningkat hingga 161%. Masyarakat juga abai menggunakan masker dan menjaga jarak serta kerumunan. Bahkan yang menyedihkan masih ada 1% orang yang ditegur tidak menggunakan masker masih tidak mau menerima. Menyedihkan!

Dampak perilaku mengabaikan protokol kesehatan membuat orang terpapar Covid-19 melonjak dan kapasitas rumah sakit memuncak. Tak ada pilihan rem harus diinjak.

Pada April Mei dan Juni 2020. Pemerintah melakukan pembatasan ketat yang sama untuk mengerem kasus baru. Kegiatan perekonomian ikut lumpuh, hampir total. Ekonomi tumbuh -5,32%. Jumlah pengangguran melonjak hingga 2,7 juta orang.

Pukulan kedua yang lebih ringan saat September 2020 DKI Jakarta memberlakukan pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), membuat kegiatan konsumsi masyarakat juga turun drastis. Kondisi ini pasti tidak nyaman bagi kita semua, baik kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi, apalagi berpenghasilan rendah

Kini awal 2021 pengetatan aktivitas kembali diberlakukan. Batasan maksimal orang bekerja dikurangi dari semula 50% menjadi hanya 25% dari jumlah kapasitas karyawan. Jam operasional pusat perbelanjaan juga dibatasi, artinya potensi pemulihan ekonomi yang diharapkan tahun ini juga ikut terbatas.

Prospek pemulihan ekonomi ada di tangan kita semua. Saat dua pekan pengetatan ternyata perilaku tidak berubah, dan jumlah pasien Covid-19 meningkat, tak ada pilihan pengetatan harus berlanjut demi menyelamatkan nyawa manusia.

Penulis : Syamsul Ashar

Redaktur Pelaksana




TERBARU

[X]
×