kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.183
  • EMAS682.000 0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Mengukur pasar fintech ASEAN

Kamis, 21 Maret 2019 / 14:01 WIB

Mengukur pasar fintech ASEAN

Masa depan pasar teknologi finansial atau financial technology (fintech) ada di kawasan ASEAN. Demikian hasil riset Deloitte dan Robocash Group yang dipublikasikan akhir 2018. Isi laporan itu mengklaim bahwa negara-negara ASEAN memiliki potensi pasar fintech terbesar hingga 2020. Rendahnya tingkat inklusi keuangan di Asia Tenggara menjadi faktor utamanya. Sementara, KPMG menyebut 73% penduduk ASEAN belum memiliki rekening di perbankan.

Riset tersebut juga menemukan bahwa penduduk ASEAN memiliki tingkat keterbukaan terhadap layanan fintech paling tinggi diantara regional lain, seperti Amerika Utara, Eropa, dan Amerika Latin. Kolaborasi kedua katalis ini akan memberikan peluang pasar yang luas bagi masuknya arus modal ke sektor fintech di Asia Tenggara.

Mengutip survei ASEAN FinTech Census 2018, total investasi fintech yang masuk ke negara ASEAN-6 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam) selama sepuluh bulan pertama 2018 sebesar US$ 458 juta. Angka tersebut tumbuh 25% dari tahun 2017 yang mencapai US$ 366 juta atau meningkat drastis 19 kali lipat dari tahun 2014.

Indonesia tentu tidak luput di dalamnya. Indonesia tercatat sebagai peringkat kedua negara tujuan investasi fintech terbesar di ASEAN-6. Singapura dan Indonesia mendominasi jumlah pendanaan yang masuk periode yang sama 2018, masing-masing US$ 222 juta (48,5%) dan US$ 185 juta (40,4%).

Tidak bisa dipungkiri kesempatan pasar fintech Tanah Air terbilang salah satu yang paling memikat. Berdasarkan data bank dunia, posisi indeks inklusi keuangan Indonesia pada 2014 sebesar 36%, kalah jauh dari negara tetangga seperti Thailand (78%), Malaysia (81%), dan Singapura (96%). Asosiasi Financial Technology Indonesia atau Aftech menyatakan bahwa adopsi fintech Indonesia masih ada di kisaran 9% atau lebih rendah ketimbang rerata penduduk dunia yang mencapai 33%.

Tidak hanya itu, keterbatasan kemampuan dalam penyaluran kredit oleh perbankan menjadikan pasar Indonesia semakin seksi di mata pemain fintech. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan kebutuhan pinjaman bagi UMKM Rp 1.700 triliun per tahun.

Lembaga keuangan domestik hanya bisa memenuhi Rp 700 triliun. Praktis kekurangan pendanaan sebesar Rp 1.000 triliun menjadi ceruk pasar bagi fintech.

Meskipun jumlah pemain fintech legal saat ini sudah banyak, namun nilai realisasi pinjaman masih jauh dari kata cukup. OJK mencatat akumulasi jumlah pinjaman fintech per Desember 2018 baru mencapai Rp 22,67 triliun.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0014 || diagnostic_api_kanan = 0.0463 || diagnostic_web = 0.3191

Close [X]
×