Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR15.201
  • SUN90,77 -0,26%
  • EMAS626.185 0,32%

Meningkatkan keamanan produk perikanan

Senin, 09 April 2018 / 15:00 WIB

Meningkatkan keamanan produk perikanan



Kebanyakan ikan impor

Undang-Undang Nomor 18/2012 tentang pangan juga telah mengamanatkan keamanan pangan. Sebagai upaya untuk mencegah dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia sehingga aman untuk dikonsumsi.  

Keamanan pangan perlu menjadi perhatian mendasar bagi kesehatan publik. Oleh karena itu, belajar dari kasus ikan makarel bercacing, upaya meningkatkan keamanan pangan produk perikanan perlu dilakukan di negeri maritim ini.  

Pertama, produk perikanan perlu ditangani dengan benar dari hulu hingga hilir melalui penerapan good practices di setiap lini untuk memenuhi standar mutu dan keamanannya. Persyaratan sanitasi wajib dipenuhi dalam kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan dan atau peredaran pangan.

Kedua, pengecekan ikan impor harus diperketat sebelum didistribusikan. Penerapan level sistem  p penelusuran (traceability) terhadap bahan baku ikan impor mestinya dijalankan dengan maksimal.

Sebuah produk perikanan dinyatakan baik jika produk tersebut dapat dilacak asal-usulnya sejak mulai penangkapan di laut sampai ke tangan konsumen. Dari mulai penangkapan ikan di laut sampai retailer, ikan harus dapat dilacak benar keberadaannya. Berasal dari perairan mana, apakah dari perairan tercemar atau tidak, dan kapan waktu penangkapannya.

Ini berdampak pada sistem pencatatan yang harus rapih di setiap rantai distribusi. Di sisi lain, komitmen semua pihak untuk berupaya mengurangi ketergantungan impor kebutuhan bahan baku industri pengolahan ikan perlu dilakukan.

Ketiga, terkait standar mutu keamanan pangan, Badan Standar Nasional (BSN) yang berwenang mengeluarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) perlu mewajibkan parameter utama standar uji untuk melakukan uji parasit terhadap ikan beku dan ikan kaleng. Mengingat aturan teknis yang diberlakukan BSN soal uji ikan beku dalam SNI 4110.2014 yang ada hanyalah uji kimia, fisika, cemaran mikroba, cemaran logam, cemaran fisik. Sedangkan parameter cacing parasit tidak diperlukan.

Pemerintah dalam hal ini Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (BKIPM KKP), BSN dan BPOM perlu sinergi dalam mewujudkan aturan standar mutu keamanan pangan produk perikanan khususnya bahan baku impor. Mengingat ikan yang terinfeksi parasit anisakis umumnya adalah ikan impor (Riani E, 2018).  

Akhirnya, kita berharap komitmen bersama semua pihak demi meningkatkan keamanan pangan produk perikanan sangatlah dibutuhkan sehingga gerakan memasyarakatkan makan ikan (Gemarikan) yang selama ini dikampanyekan bisa terus berjalan yang pada akhirnya berdampak positif pada kehidupan industri pengalengan ikan di Tanah Air.


TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0812 || diagnostic_web = 0.6838

Close [X]
×