kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Meningkatkan sektor ekonomi kreatif


Selasa, 28 Mei 2019 / 14:37 WIB

Meningkatkan sektor ekonomi kreatif


Proyeksi PDB Ekonomi Kreatif (Ekraf) pada 2019 senilai Rp 1.211 triliun dengan estimasi kontribusi 7,76% terhadap PDB nasional. Setiap tahun PDB Ekraf selalu naik, yaitu dari Rp 825 triliun pada 2015 menjadi Rp 1.105 triliun di 2018. Tiga subsektor Ekraf yang berkontribusi terbesar pada PDB di 2016 adalah kuliner Rp 381,95 triliun (41,40%), fesyen Rp 166,16 triliun (18,01%), dan kriya Rp 142,08 triliun (15,40%).

Sedangkan pada 2016 terdapat subsektor yang tumbuh pesat yaitu televisi dan radio (10,33%), film, animasi dan video (10,09%), seni pertunjukan (9,54%) dan desain komunikasi visual (8,98%).

Provinsi penyumbang PDB Ekraf terbesar pada 2016 adalah Yogyakarta (16,12%), Bali, Jawa Barat (12,57%), Jawa Timur (11,81%), Sumatra Utara (4,77%). Ekspor Ekraf di tahun yang sama naik 3,23% (yoy). Ekraf tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor non-migas yang hanya 0,22%. Provinsi asal utama ekspor Ekraf berasal dari Jawa Barat (31,96%), Jawa Timur (24,36%), Banten (15,23%), Jawa Tengah (14,49%) dan DKI Jakarta (8,97%). Sementara negara tujuan ekspor utama Ekraf yaitu AS (30,24%), Swiss (0,45%), Jepang (6,79%), Singapura (6,14%), dan Jerman (4,43%). Nilai ekspor Ekraf 2016 sebesar US$ 19,98 miliar naik 3,36% dari 2015 sebesar US$ 19,33 miliar.

Selain PDB, peningkatan terjadi di sisi tenaga kerja. Pada 2016 sebanyak 16,91 juta orang bekerja di sektor Ekraf, naik 5,95% dibandingkan tenaga kerja Ekraf pada tahun sebelumnya. Bila dibandingkan pertumbuhan tenaga kerja nasional, pertumbuhan tenaga kerja Ekraf lebih tinggi.

PricewaterhouseCoopers (PWC) memprediksi Indonesia menjadi negara superpower di dunia dengan peringkat kelima pada 2030 dan peringkat keempat pada 2050 dengan bermodalkan pertumbuhan ekonomi relatif tinggi serta momentum bonus demografi. Hal ini menjadi potensi besar untuk sektor Ekraf terus berkembang.

Salah satu program pemerintah untuk meningkatkan sektor Ekraf adalah pembangunan Palapa Ring, yang akan menjadi tulang punggung ekosistem ekonomi digital nasional. Program itu juga akan ditambah pembangunan jaringan 4G di seluruh Nusantara. Selain infrastruktur, pemerintah menerbitkan peta jalan sistem perdagangan nasional berbasis elektronik (e-commerce road map). Dari sisi kelembagaan, penguatan institusi melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) juga dilakukan sebagai ujung tombak pengembangan sektor Ekraf.

Melalui Bekraf, pemerintah memberikan fasilitas dan insentif kepada pelaku usaha. Bantuan yang sudah diberikan meliputi edukasi usaha, seperti program pendidikan dan pelatihan gratis. Untuk permodalan, Bekraf memfasilitasi dan menghubungkan para pelaku usaha dengan investor. Fasilitas terkait Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan regulasi terkait juga menjadi fokus dengan membantu pengajuan HKI bagi pelaku usaha Ekraf dan menyediakan informasi HKI dalam bentuk aplikasi. Bekraf juga membentuk satgas anti pembajakan serta menghadirkan para konsultan HKI secara gratis.

Program Bekraf lainnya terkait pembangunan ekosistem Ekraf yang kohesif, seperti ide atau produk, produksi, HKI, pemasaran dan penjualan. Peluang dan tantangan yang dihadapi Ekraf dapat dilihat dari sisi keahlian tenaga kerja, rantai pasok (supply chain), kebijakan pemerintah, akses modal dan sertifikasi. Melihat hal itu, Bekraf menyatakan kreativitas yang terkemas dengan manajemen Kekayaan Intelektual (KI) akan mendorong inovasi yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×