kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Menjaga rupiah


Senin, 20 Mei 2019 / 15:02 WIB

Menjaga rupiah

Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan BI 7-days reverse repo rate (BI 7-DRR), di 6% dalam Rapat Dewan Gubernur pekan lalu. Efek kebijakan ini cukup positif bagi pergerakan kurs rupiah. Nilai tukar rupiah bergerak menguat, meski tidak signifikan.

Meski begitu, kebijakan BI ini memberi sinyal bank sentral dalam negeri ini memiliki pandangan positif mengenai makro ekonomi. Apalagi, kebijakan dibuat saat nilai tukar rupiah tengah cenderung melemah. Tahun lalu, BI beberapa kali menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah.

Pejabat International Monetary Fund (IMF) Luis Breuer, yang juga menjabat Kepala Misi IMF untuk Indonesia, bahkan menyatakan BI memiliki peluang untuk menurunkan tingkat suku bunga. Ia menyebut, melihat inflasi yang rendah, ada ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Akhir pekan lalu (17/5), Breuer juga menyarankan BI mengurangi intervensi terhadap kurs rupiah. Intervensi bisa dilakukan dalam keadaan pasar tak terkendali.

Jadi, BI seharusnya bisa mulai mempertimbangkan penurunan suku bunga, meski kurs rupiah saat ini masih tinggi. Memang, bila suku bunga turun, ada potensi kurs rupiah juga ikut turun.

Tapi, Breuer memprediksi defisit akun berjalan atawa current account deficit (CAD) akan turun secara bertahap sepanjang tahun ini. Artinya, secara fundamental, ada kemungkinan nilai tukar rupiah juga berpotensi menguat lagi.

Para pakar ekonomi menilai, pasar modal serta nilai tukar rupiah saat ini masih tertekan lebih karena sentimen negatif ketidakpastian global. Ini juga terlihat dari indeks Fear & Greed, yang menggambarkan sentimen investor saat ini.

Jumat lalu (17/5), indeks Fear & Greed berada di level 36, mengindikasikan investor saat ini berada dalam sentimen fear. Lazimnya, ini membuat investor ogah menempatkan investasi di aset yang dianggap berisiko, termasuk negara emerging market seperti Indonesia.

Selain itu, dari satu sisi, pelemahan kurs rupiah bisa menguntungkan Indonesia. Indonesia bisa memanfaatkan kondisi ini untuk menggenjot pendapatan dari ekspor.

Tapi harus diakui, Indonesia masih sulit mendorong ekspor secara signifikan. Indonesia tidak bisa mengandalkan komoditas, lantaran harganya saat ini turun. Di sisi lain, daya saing sektor manufaktur belum terlalu mumpuni. Ke depan, pemerintah perlu fokus mendorong daya saing sektor manufaktur.♦

Harris Hadinata


Reporter: Harris Hadinata
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×