kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45784,56   -4,98   -0.63%
  • EMAS937.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Menjaring Relokasi

oleh Khomarul Hidayat - Redaktur Pelaksana


Rabu, 01 Juli 2020 / 10:46 WIB
Menjaring Relokasi
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Di tengah tekanan ekonomi yang berat, ada kabar cukup menggembirakan soal masuknya investasi asing ke Indonesia. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan ada tujuh perusahaan asing yang telah merelokasi pabriknya dari China ke Batang, Jawa Tengah.

Perusahaan yang merelokasi usahanya dari Tiongkok tersebut berasal dari Amerika Serikat (AS), Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Hitungan BKPM, nilai investasi tujuh perusahaan tersebut mencapai US$ 850 juta atau sekitar Rp 11,9 triliun. Sedangkan, potensi penyerapan tenaga kerja 30.000 orang.

Tentu saja, baru menjaring tujuh investor saja belum cukup. Sebab, arus relokasi usaha dari China cukup deras mengingat perang dagang China dengan Amerika Serikat (AS) belumlah usai, ditambah lagi belakangan hubungan dua negara tersebut yang makin runyam.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meninjau Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6), menyebut setidaknya ada 119 perusahaan yang akan memindahkan usahanya dari China. Namun, Indonesia harus bersaing ketat dengan negara-negara lain untuk menjaring perusahaan-perusahaan tersebut.

Tahun lalu, saat perang dagang merebak dan banyak pabrik hijrah dari China, Indonesia tak bisa menadah satupun peluang yang sudah di depan mata itu. Kenapa? Karena Indonesia kalah gesit dari negara-negara tetangga kita seperti Vietnam, Malaysia dan Thailand. Tiga negara itu yang paling banyak menadah relokasi perusahaan dari China di tahun lalu.

Selain kurang jemput bola, juga karena pemanis yang diberikan Indonesia masih kalah manis dari negara lain sehingga kita kehilangan peluang. Nah, sekarang kesempatan emas tersebut datang lagi dan ini sayang kalau sampai berlalu begitu saja. Sudah bisa menjaring tujuh perusahaan asing sejauh ini tentu sebuah kemajuan.

Semoga ini menjadi awal yang baik untuk mendatangkan investasi langsung asing lebih banyak lagi. Sekaligus menghidupkan lagi industri manufaktur Indonesia yang tengah terengah-engah.

Indeks manufaktur Indonesia beberapa bulan terakhir jatuh jauh dari level ekspansi. Investasi langsung asing jadi kebutuhan, terlebih pada situasi krisis seperti sekarang. Bukan semata mendatangkan uang, efek domino investasi langsung ke perekonomian amat diharapkan. Yakni menghadirkan lapangan pekerjaan dan menggeliatkan lagi mata rantai pasokan ekonomi.

Penulis : Khomarul Hidayat

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×