Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.185
  • SUN95,68 0,05%
  • EMAS667.500 0,15%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Menyambut musim semi golongan putih

Jumat, 01 Februari 2019 / 15:13 WIB

Menyambut musim semi golongan putih

Selama dekade 1960-an, tingkat pendidikan masyarakat Amerika Serikat (AS) meningkat secara drastis. Warga Afrika-Amerika yang selama dekade sebelum termarjinalisasi mendapatkan haknya untuk memilih dalam pemilihan umum.

Bahkan pendaftaran pemilih yang selama ini menjadi hambatan berarti untuk meningkatkan jumlah pemilih justru dipermudah. Bahkan, dalam kurun waktu ini diperkenalkan alternatif yang memudahkan masyarakat untuk memilih dengan tidak harus datang ke bilik suara seperti "motor-voter" law, unrestricted absentee voting, vote-bymail , dan same-day registration. Namun, fakta ini tidak bisa mendorong peningkatan partisipasi pemilih di AS (Macedo, dkk 2005:23).

Hal tersebut menggambarkan bahwa faktor-faktor yang selama ini dianggap sebagai penentu tingginya partisipasi pemilih tidak membawa dampak yang berarti bagi peningkatan partisipasi pemilih di AS. Fenomena serupa, juga bersemi di Indonesia.

Pascareformasi, tingkat non-partisipasi pemilihan umum (Pemilu) atau yang dikenal dengan golongan putih (golput) cukup tinggi. Misalnya, pada Pemilu 2004, tingkat golput mencapai 23,24% atau naik 300% dari angka golput pada pemilu 1999, sementara dalam pemilu 2009, golput meningkat menjadi sekitar 29% (Yanuarti 2009: 26-27).

Bahkan, kita pun masih menjadi saksi sejarah tingginya angka golput pada tahun 2014 lalu. Padahal, di masa-masa itu tingkat pendidikan, kebebasan, dan akses memilih relatif lebih baik.

Anehnya, alih-alih merangkul golput ini dan memetakan masalah-masalah yang bisa menghambat penggunaan hak pilih karena hal-hal administratif dan teknis, golput justru dimusuhi. Bahkan timbul desakan agar warga bangsa yang memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya itu untuk dipidana. Apakah bijak sikap seperti ini?

Fenomena golput ini menyiratkan adanya dua macam golongan. Pertama, yaitu golongan orang yang tidak mau menggunakan haknya karena berbagai alasan, entah itu ideologis ataupun pragmatis. Dan kedua, orang yang tidak mampu menggunakan haknya karena terhambat berbagai hal.

Untuk golongan kedua, soalnya agak lebih mudah untuk diatasi, paling tidak hal itu ditunjukkan dalam pemilihan presiden 2014 yang lalu. Masih segar dalam ingatan penulis betapa Komisi Pemilihan Umum (KPU) benar-benar memfasilitasi pemilih luar daerah yang ingin memilih agar tidak kehilangan hak pilihnya.

Hal ini adalah salah satu prestasi KPU pada periode lalu yang kurang diapresiasi. Terlepas dari itu, jenis golput semacam ini akan hilang apabila penyelenggara berani berbenah dan menggunakan pendekatan yang akomodatif serta tidak rigid dalam penyelesaian persoalan.

Namun, golput yang karena memang tidak mau menggunakan hak pilihnya adalah yang paling mengkhawatirkan. Golput ini menyiratkan betapa Pemilu tidak dianggap sebagai instrumen utama bagi legitimasi partai politik untuk mengendalikan pengambilan keputusan politik. Fenomena ini juga menunjukkan betapa masyarakat kurang tertarik pada partai politik sebagai representasi demokrasi perwakilan atau bahkan sikap apatis pemilih (Solijonov 2016: 9-13).

Jika kesimpulan ini dipakai sebagai pangkal bagi kita untuk mengurai masalah golput, maka ketidakpercayaan pemilih bukan jadi penyebab tunggal oleh penyelenggara pemilu saja.

Elite politik, entah mereka yang ikut kontestasi langsung dalam pemilihan, atau para elite yang berada di belakang layar juga memainkan peranan. Apakah mereka akan menumbuhkan kepercayaan kepada sistem demokrasi yang sedang dijalankan bangsa kita atau justru ambil bagian dalam memperparah ketidakpercayaan publik kepada demokrasi yang sedang berlangsung di Indonesia.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.4547 || diagnostic_web = 2.3460

Close [X]
×