Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.568
  • SUN94,17 -0,23%
  • EMAS655.000 -0,15%

Menyerupai kondisi Elek Yo Ben

Senin, 08 Oktober 2018 / 11:41 WIB

Menyerupai kondisi Elek Yo Ben

Pada pertemuan Keluarga Besar Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) beberapa hari lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bercanda tentang penampilan Elek Yo Band. Saat menonton "Elek Yo Band" tampil live di layar televisi, Jokowi dengan sedikit guyon merasa sakit perut.

Jokowi menyarankan personel Elek Yo Band agar terus berlatih sehingga kinerjanya meningkat. Namun Jokowi memahami betul kalau penampilan buruk Elek Yo Band karena kurangnya latihan mengingat mereka lebih sibuk bekerja sebagai menteri.

Tentu saja saran Presiden tidak bermaksud agar "Elek Yo Band" menjadi kelompok musik yang profesional. Sebaliknya, gaya bahasa kontradiktif yang dipakai Jokowi sejatinya ditujukan agar para pembantunya tetap bekerja profesional sebagai menteri.

Apapun motivasinya, Elek Yo Band menarik untuk disimak eksistensinya. Secara harfiah, Elek Yo Band berasal dari jargon Jawa "Elek Yo Ben". Kata Band dan Ben berpengucapan sama (homofon).

Elek Yo Ben berarti "biarkanlah ini buruk". Filosofinya adalah sikap untuk tidak peduli sama sekali tentang apa yang orang katakan sejauh yang dia merasa nyaman. Ide dasar Elek Yo Ben dan plesetannya "Elek Yo Band sepertinya cocok untuk menjelaskan situasi perekonomian nasional dewasa ini.

Tensi ketidakpastian ekonomi dunia meningkat tajam setelah genderang perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China ditabuh pada awal Juli tahun ini. Belakangan AS memperluas target ke negara berkembang yang selama ini menikmati sistem preferensi umum (Generalized System of Preferences atau GSP) termasuk Indonesia.

Pencabutan fasilitas GSP akan mengerek harga ekspor. Konsekuensinya, daya saing produk ekspor Indonesia ke AS akan tertekan sehingga menghambat aliran masuk devisa. Sayangnya, aliran modal keluar (capital outflows) diprediksi secara masif menuju ke AS terkait prospek kenaikan suku bunga acuan AS satu kali lagi di akhir tahun. Akibatnya adalah kelangkaan likuiditas yang kemudian memicu fluktuasi nilai tukar rupiah.

Alhasil, defisit kembar (neraca barang dan neraca jasa) adalah kendala utama bagi otoritas moneter dalam upaya menstabilkan nilai tukar rupiah. Tesis di atas tampaknya mendekati kenyataan. Tiongkok adalah negara tujuan ekspor terbesar sebesar US$ 1,81 miliar dan AS berada di posisi ketiga, US $1,43 miliar di belakang Uni Eropa sebesar US$ 1,71.

Pemasok terbesar impor nonmigas adalah Tiongkok. Peringkat kedua adalah Jepang dengan US$ 1,65 miliar atau 11% dari total nilai perdagangan luar negeri. Sementara, AS tidak termasuk dalam tiga pemasok impor teratas ke Indonesia.

Dalam konteks ini, dampak proteksi AS terhadap produk Indonesia bisa langsung bekerja. Beberapa jenis produk ekspor Indonesia sudah terkoneksi ke dalam rantai pasok global. Oleh karenanya, dampak jangka pendek lebih dominan adalah gejolak di pasar finansial, seperti yang terjadi pada beberapa bulan terakhir.


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0764 || diagnostic_web = 0.4457

Close [X]
×