kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45806,19   -5,40   -0.67%
  • EMAS1.055.000 -0,94%
  • RD.SAHAM -0.34%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Menyikapi Euforia Bersepeda

oleh Nugroho Saputro - Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret Surakarta


Sabtu, 11 Juli 2020 / 17:19 WIB
Menyikapi Euforia Bersepeda
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Era kenormalan baru atau new normal mengubah kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia, seperti bersepeda. Euforia orang bersepeda kita jumpai tiap pagi, sore, bahkan malam hari, dan puncaknya terjadi di setiap pagi hari, tepatnya pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Ruas jalanan pun langsung dipadati oleh para pesepeda, dari semua kalangan usia dan jenis kelamin.

Begitu juga dengan jenis sepeda. Mulai dari sepeda yang biasa-biasa saja dengan harga sekitar ratusan ribu rupiah saja, ada juga yang mengutak-atik sepeda yang selama ini hanya ada di dalam gudang, hingga yang betul-betul berniat untuk bersepeda sampai rela mengeluarkan uang sampai harga ratusan juta rupiah. Semuanya membaur menjadi satu kesatuan di jalanan yakni menggowes.

Seperti kata mutiara: Hidup itu bagai orang mengayuh sepeda. Yang artinya, kehidupan harus terus berjalan, kalau berhenti mengayuh pedal sepeda maka kita akan terjatuh. Kata mutiara itu yang paling relevan saat ini untuk dianut setelah pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai kasusnya. Malah kasusnya masih terus saja bertambah hingga kini. Namun yang pasti adalah pandemi Covid-19 telah menjadi pendidikan tersendiri bagi semua lapisan masyarakat, yakni bagaimana kesehatan ternyata begitu mahal sekali harganya.

Nah, asumsi bersepeda adalah kehidupan, maka manusia harus optimistis untuk tetap menjalankan kehidupannya masing-masing. Kalau manusia hanya berdiam diri saja tanpa melakukan apa-apa, maka kehidupan akan berhenti dengan sendirinya.

Euforia bersepeda tentunya memberi dampak positif pada pribadi olahragawan. Bersepeda dengan rutin bisa menjaga kebugaran tubuh dan memberikan dampak positif terhadap fisik seseorang. Misalnya, saat bersepeda dimulai dengan duduk di sadel dan meletakkan beban tubuh di sana. Ini akan melatih persendian pada tulang panggul. Kemudian, mengayuh pedal sepeda juga akan memberikan latihan aerobik, yang bagus untuk jantung, otak, dan pembuluh darah.

Selain itu, bersepeda juga bisa melatih otot-otot yang lainnya. Sebut saja otot perut, lalu otot lengan dan otot bahu. Malah dalam jangka panjang aktivitas bersepeda akan berpengaruh positif terhadap kepadatan tulang.

Yang tidak kalah penting lainnya dari bersepeda adalah, ternyata selain bermanfaat untuk kesehatan fisik, bersepeda juga bisa memberikan efek positif terhadap psikis seseorang. Tapi, ini tentu ada syaratnya yakni bersepeda dilakukan dengan cara gembira.

Desain kebijakan publik

Melihat manfaat yang didapat individu, maka sisi positif dari bersepeda juga sudah seharusnya diterapkan di ranah publik dengan melakukan desain kebijakan publik.

Pertamagreen belt atau sabuk hijau merupakan program pemerintah daerah (pemda) yang harus segera dilakukan secara masif. Sebab, keberadaan green belt bisa dianggap merupakan salah satu desain penghijauan di area jalan yang mempunyai fungsi utama untuk mengurangi debu pencemaran. Selain mengurangi debu, green belt akan menjadikan lestari para pesepeda karena suasana teduh atau tidak panas di sepanjang jalan.

Kedua, jalur bersepeda hampir diabaikan oleh pemda dalam mendesain jalur jalan saat ini. Desain dan rencana harus tergambar dalam perencanaan keruangan oleh daerah setempat, mulai dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sampai dengan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan (RDTRK).

Jalur sepeda yang terpisah dengan jalur kendaraan bermotor merupakan idaman bagi para pesepeda. Jalur-jalur bersepeda juga harus terhubung satu sama lainnya dengan daerah yang lain. Sinergi kepemimpinan antarwilayah, baik kota ataupun kabupaten, diperlukan untuk menjaga euforia pesepeda supaya terus berlanjut. Dengan begitu, aktivitas bersepeda ke depannya diharapkan bisa menggantikan moda transportasi bermotor, yang saat ini dinilai mencemari lingkungan karena polusi udara yang sangat tinggi.

Ketiga, rambu-rambu jalan sering diabaikan para pesepeda saat memenuhi jalan raya dan jalan lainnya. Misalnya, para pesepeda ngobrol berbanjar saat bersepeda, tidak memakai helm, tidak ada lampu hazard atau lampu sepeda yang nyala di malam hari (gelap), atau bahkan menerobos lampu merah.

Sudah bukan rahasia umum lagi, pemahaman masyarakat terkait dengan rambu-rambu lalu lintas sering diabaikan oleh para pengguna jalan. Akibatnya adalah angka kematian di jalan raya sangat tinggi, karena kurang tertibnya masyarakat dalam berlalu lintas. Rambu-rambu jalan raya seharusnya masuk dalam bagian kurikulum sekolah dasar. Selain masuk ke kurikulum sekolah dasar, Satuan Polisi Lalu Lintas (Satlantas) serta Dinas Perhubungan (Dishub) setempat juga harus mendesain informasi rambu-rambu lalu lintas secara menarik di media sosial. Yang kemudian dapat digunakan untuk mengedukasi masyarakat terkait rambu-rambu lalu lintas.

Keempat, potensi pendapatan asli daerah (PAD) melalui retribusi sepeda juga perlu dipikirkan oleh pemerintah setempat. Hanya, penarikan retribusi sepeda untuk PAD bisa menjadi momok akan  booming-nya kegiatan bersepeda saat ini. Dan memang, euforia bersepeda sangat memungkinkan mendulang PAD dari retribusi kepemilikan sepeda. Tapi sebelum itu, lebih bijak jika pemerintah memanfaatkan euphoria pesepeda untuk mengembalikan ajakan  bike to work lebih dulu. Dan, jangan berpikir singkat untuk menaikkan PAD dari retribusi sepeda.

Euforia orang bersepeda harus dengan cepat disikapi pemerintah dengan kebijakan yang tepat. Perilaku masyarakat yang mempunyai kesadaran tinggi akan manfaat berolahraga bersepeda, harus disambut dengan kebijakan yang membuat pesepeda semakin nyaman atau enjoy dalam bersepeda.

Kesadaran ini terbentuk karena semakin luasnya informasi yang dimiliki masyarakat. Bahkan, informasi tersebut tentunya dari negara yang sudah maju. Sebagai contoh, Belanda. Bagaimana penduduk Kota Amsterdam begitu menghargai para pejalan kaki dan pesepeda, karena mereka dianggap sebagai pahlawan polusi dan kesehatan. Di Kota Amsterdam dan Den Hag, sebanyak 70% transportasi penduduk menggunakan sepeda, sehingga negara tersebut merancang jalur-jalur pesepeda sedemikian rupa untuk melindungi dan melestarikan aktifitas bersepeda.

Sekarang, tinggal pemerintah memilih untuk membiarkan euforia orang bersepeda saat ini hilang dengan sendirinya seperti booming batu akik tempo dulu. Atau, mengubah euforia orang bersepeda saat ini menjadi moda transportasi yang sehat dan tepat. Sekarang pilihannya ada di tangan pemerintah.

Penulis : Nugroho Saputro

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret



TERBARU

[X]
×