kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Menyikapi kekalahan RI di WTO


Minggu, 06 Oktober 2019 / 09:05 WIB

Menyikapi kekalahan RI di WTO

Dalam waktu dekat impor daging ayam dan sapi menyerbu Indonesia. Tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa Indonesia kalah pada sidang Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO) melawan Brasil pada Oktober 2017 yang lalu. Dalam rangka mematuhi rekomendasi WTO, pemerintah Indonesia menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 29 Tahun 2019 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan. Keran impor daging ayam dan sapi dari Brasil pun dibuka.

Kekalahan di WTO dan masuknya berbagai produk impor sebenarnya hal biasa. Indonesia juga sudah beberapa kali mengalaminya. Dari delapan kasus yang melibatkan Indonesia di sidang WTO, hanya satu yang dimenangkan. Hanya, saat ini menjadi tidak biasa karena hal tersebut terjadi bersamaan dengan beberapa peristiwa lain yang memberatkan neraca perdagangan. Setidaknya ada dua hal yang terjadi bersamaan dengan kekalahan di WTO.

Pertama, penurunan harga komoditas global yang menyebabkan nilai ekspor Indonesia turun secara signifikan. Sementara sampai saat ini komoditas merupakan produk andalan ekspor Indonesia. Hal ini menyebabkan keseimbangan perdagangan internasional berubah drastis dari surplus menjadi defisit dalam jumlah yang signifikan.

Kedua, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China menyebabkan barang-barang dari China mencari alternatif pasar selain AS, termasuk Indonesia dan negara-negara lain yang menjadi pasarnya Indonesia. Akibatnya, pasar Indonesia diserbu produk impor dari China. Pasar barang-barang Indonesia di luar negeri juga bersaing lebih ketat dengan produk dari China.

Sebenarnya perang dagang bisa menjadi keuntungan bagi negara yang tidak terlibat. Keuntungan ini bisa diperoleh jika negara tersebut bisa mengambil alih pasar yang ditinggalkan oleh produk China di AS. Atau bisa juga dengan menjadi lokasi alternatif bagi industri yang keluar dari China karena tidak mau terimbas perang dagang. Sayangnya, dari semua informasi yang tersedia, Indonesia tidak bisa memanfaatkan satu pun dari dua celah tersebut. Alih-alih Indonesia malah lebih banyak terkena dampak negatifnya.

Selain dua kejadian tersebut di atas, Indonesia juga akan mengalami hambatan ekspor crude palm oil (CPO) ke Uni Eropa setelah mereka akan memutuskan untuk mengurangi penggunaan CPO dari berbagai negara termasuk Indonesia mulai tahun 2021. Tentu saja hal ini akan memperburuk neraca perdagangan dalam beberapa tahun ke depan mengingat CPO adalah salah satu produk andalan ekspor Indonesia.

Kejadian-kejadian tersebut terjadi secara bersamaan dan membuat neraca perdagangan Indonesia negatif secara berturut-turut selama lima kuartal. Hal ini merupakan pertama kalinya terjadi pasca reformasi. Ditambah dengan kebijakan CPO Uni Eropa yang mulai akan efektif tahun 2021, maka masa depan neraca perdagangan kita tambah suram.

Jadi, kekalahan Indonesia di WTO terjadi pada saat yang benar-benar tidak tepat.

Dari berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah melalui berbagai kementerian, belum terlihat ada kebijakan yang terintegrasi dalam menghadapi defisit neraca transaksi berjalan berkelanjutan yang disertai kekalahan WTO ini. Tanpa kebijakan terintegrasi yang difokuskan untuk menyeimbangkan perdagangan kembali, maka defisit tersebut bisa dipastikan akan terus berlanjut.

Bahkan, terlihat pemerintah lebih memperhatikan inflasi daripada defisit perdagangan. Mungkin karena inflasi berdampak langsung kepada masyarakat, sementara defisit perdagangan masih bisa ditutup utang luar negeri.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), dari bulan Oktober 2018 (saat pertama kali nilai tukar bergejolak) sampai Agustus 2019 utang luar negeri pemerintah dan otoritas moneter telah meningkat lebih dari US$ 17 miliar. Itu semua digunakan untuk meningkatkan ketahanan moneter untuk mengimbangi defisit neraca pembayaran. Menahan defisit dengan cara berutang seperti ini tentu ada batasnya dan berbiaya sangat mahal.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×