Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.185
  • EMAS658.000 0,30%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Merayakan tahun baru Imlek

Kamis, 07 Februari 2019 / 16:28 WIB

 Merayakan tahun baru Imlek

Tahun baru Imlek merupakan perayaan penting bagi orang Tionghoa. Perayaan ini dimulai dari hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (saat bulan purnama). Perayaan ini dirayakan di daerah dengan populasi orang Tionghoa khususnya di sekitar China termasuk di Indonesia. Tahun 1873 orang Tionghoa asli dari China daratan banyak melakukan eksodus besar-besaran termasuk di Indonesia menyusul leluhur mereka yang telah tiba di Indonesia terlebih dahulu.

Kemeriahan perayaan Imlek dalam sejarah Indonesia dibagi menjadi empat fase. Diawali dari fase Orde Lama, pertama-tama Imlek diundangkan secara sah sebagai salah satu hari raya di Indonesia melalui Penetapan Pemerintah no 2/UM/1946 tentang aturan hari raya. Pasal 4 penetapan tersebut menjelaskan tentang hari raya khusus untuk etnis Tionghoa, salah satunya Imlek.

Pada masa Orde Lama sudah terjadi perubahan tentang ketentuan perihal Imlek. Perubahan tersebut tampak dalam Keputusan Presiden (Kepres) Republik Indonesia Nomor 24/1953 tentang Hari Libur Nasional.

Kepres tersebut ditandatangani Wakil Presiden Mohammad Hatta. Esensi dari Kepres tersebut dalam kaitannya dengan Imlek adalah meniadakan Imlek dari hari raya keagamaan, namun dalam paragraf ke empat dijelaskan terkait Hari Raya Imlek bahwa yang berkepentingan diberi kebebasan untuk merayakan imlek dan menjalankan peribadatan dengan memberitahukan kepada kepala kantor bersangkutan.

Pergeseran regulasi tentang Hari Raya Imlek ini puncaknya terjadi pada Orde Baru. Melalui instruksi Presiden Nomor 14/1967 tentang Agama Kepercayaan dan Adat Istiadat China, pemerintah melarang perayaan Imlek dilakukan secara terbuka.

Diktum kedua Inpres tersebut menyatakan bahwa perayaan Imlek hanya boleh dilakukan dalam lingkup keluarga saja. Ironisnya saat itu penentuan tata cara ibadat agama , kepercayaan dan adat istiadat China diatur oleh Menteri Agama setelah mendengar pertimbangan Jaksa Agung.

Pada masa Orde Baru represi terhadap perayaan Imlek terus berlanjut melalui Surat Edaran Mendagri No. 477/74054 tertanggal 18 November 1978 yang berisi antara lain pemerintah menolak perkawinan bagi yang beragama Konghucu dan penolakan pencantuman agama Konghucu pada kolom KTP. Ketentuan ini membuat perayaan Imlek semakin pudar.

Puncak represi terhadap perayaan imlek di Indonesia terjadi pada 1993 melalui Surat Edaran Direktur Jenderal Bimas Hindu dan Buddha Nomor H/BA.00/29/1/1993 yang menyatakan larangan merayakan imlek di Vihara dan Cetya, serta Surat Edaran Nomor 07/DPP-Walubi/KU/93 yang menyatakan bahwa imlek bukan hari besar agama sehingga Vihara Mahayana tidak boleh merayakan tahun baru Imlek dengan menggotong toapekong dan mengadakan acara barongsai.

Orde baru pada masa itu memandang bahwa agama, kepercayaan dan adat-istiadat Tionghoa di Indonesia yang berpusat pada negeri leluhurnya bisa menimbulkan pengaruh psikologis mental dan moril bagi proses asimilasi bangsa Indonesia. Sejatinya justru pelarangan tersebut bertentangan dengan semangat kebhinekaan yang sejak awal kemerdekaan Indonesia dibangun dan dipertahankan sebagai identitas bangsa.

Penelitian Amy Freedman dari Franklin and Marshal College Amerika Serikat pada, Freedman dan Franklin (2015), menyimpulkan bahwa kebencian terhadap identitas etnis Tionghoa yang merusak persatuan dan identitas keberagaman bangsa merupakan hasil politik pecah-belah orde baru yang menggunakan teori lama yang dipakai kolonial.

Dalam penelitian Amy Freedman berjudul "Political Institution and Etnic Chinese in Indonesia", menyebutkan bahwa Orde Baru memaksa masyarakat Tionghoa melakukan asimilasi sembari mengidentifikasi mereka bukan kelompok pribumi.


Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Terpopuler
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0719 || diagnostic_web = 0.4286

Close [X]
×