Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.185
  • EMAS658.000 0,30%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Merespon kebijakan The Fed

Kamis, 11 April 2019 / 15:26 WIB

Merespon kebijakan The Fed

Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada Selasa (19/3/2019) hingga Rabu (20/3/2019) silam telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) (The Federal Reserve/The Fed), yaitu Federal Funds Rate (FFR), pada kisaran 2,25% hingga 2,50%. Keputusan yang disampaikan Gubernur The Fed itu sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar keuangan yang telah memperkirakan bahwa tidak akan ada perubahan dalam besaran suku bunga acuan.

Akan tetapi, ada hal lain yang jauh lebih penting, yaitu stance kebijakan The Fed yang dovish ketimbang keputusan FOMC tiga bulan lalu. Powell dan kolega memperkirakan tidak akan ada lagi kenaikan suku bunga acuan sepanjang tahun ini. Padahal sebelumnya, FOMC memperkirakan bunga acuan masih akan naik dua kali lagi (CNBC International).

Pengumuman The Fed segera ditanggapi positif di berbagai negara. Salah satu indikasi dapat terlihat pada penguatan nilai tukar mata uang Jepang, yaitu yen, terhadap mata uang AS, dolar AS. Begitu juga dengan mata uang lain termasuk mata uang Indonesia, yaitu rupiah.

Ketika menghadiri acara Credit Suisse Asian Investment Conference di Hong Kong, Senin (25/3/2019), Menteri Keuangan RI Sri Mulyani mengatakan, keputusan The Fed menjadi momentum untuk melakukan akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, Indonesia juga harus berhati-hati karena kebijakan The Fed menunjukkan perekonomian dunia ke depan tidak dalam situasi yang kondusif.

Lalu, bagaimana memaknai keputusan The Fed beserta implikasi terhadap ekonomi Indonesia? Stance kebijakan The Fed saat ini adalah dovish. Sekadar mengingatkan, dovish berakar dari kata dove yang berarti burung merpati dalam bahasa Indonesia. Jamak diketahui, burung itu selalu tampak hati-hati disertai ketinggian terbang yang rendah seolah takut dengan ketinggian.

Filosofi inilah yang mendasari penggunaan kata dovish dalam menggambarkan kebijakan bank sentral suatu negara. Keputusan The Fed yang tidak akan menaikkan suku bunga acuan di sisa waktu tahun ini menu njukkan stance dovish. Sebab, ada indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi di AS yang ditandai penurunan laju inflasi.

Namun, sejatinya, ekonomi melambat juga diramalkan akan menimpa perekonomian global. Baru-baru ini, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organization for Economic Co-operation and Development/OECD) memprediksi pertumbuhan ekonomi 2019 akan berada pada level 3,3% atau 0,2% lebih rendah daripada proyeksi sebelumnya. Basis keputusan OECD adalah ketidakpastian kebijakan di berbagai belahan dunia (sebagai contoh Brexit), ketegangan perdagangan (misalnya antara Amerika Serikat dan China), dan faktor-faktor lainnya.

Dengan demikian, maka faktor eksternal tidak dapat diandalkan dalam situasi seperti sekarang. Utamanya ekspor komoditas semacam minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), batubara, karet, dan komoditas-komoditas lainnya. Begitupun impor, terutama bahan baku dan bahan penolong yang diharapkan dapat berpotensi mendorong ekspor, juga akan terkoreksi.

Lalu, dari mana harapan agar ekonomi Indonesia tetap tumbuh 5,4% sesuai target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019?


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0062 || diagnostic_api_kanan = 0.0572 || diagnostic_web = 0.7791

Close [X]
×