kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Mewaspadai bayang-bayang resesi


Jumat, 06 September 2019 / 10:50 WIB

Mewaspadai bayang-bayang resesi


Sinyal sistem deteksi dini (early warning system) menunjukkan bahwa di banyak negara mulai dibayangi adanya kelesuan ekonomi global. Disinyalir perang dagang China - Amerika Serikat (AS) merupakan pangkal utama yang menyeret timbulnya gejala penyakit resesi ekonomi ini. Efeknya, beberapa negara mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif (negative growth). Jerman, Inggris, Italia, dan beberapa negara Amerika Latin seperti Argentina, Meksiko dan Brasil. Belakangan beberapa negara Asia seperti Singapura dan Thailand. Singapura merupakan contoh negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Hal ini dikhawatirkan berimbas menjadi efek domino (contagion effect) bagi kawasan.

Beberapa gejala dapat menjadi indikator munculnya badai resesi ekonomi pada suatu negara atau kawasan bahkan global. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang stagnan, bahkan negatif. Bila berkaca pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia saat ini ternyata masih relatif bagus, walaupun tidak beranjak dari angka 5% sejak 2014. Padahal, tahun 2010 sampai 2013 rata-rata mencapai angka 6% per tahun. Untuk itu, asumsi Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 pun masih berkisar 5%.

Tumpuan dan harapan besar ada pada APBN 2020 yang dapat mengatasi berbagai tantangan global. Pada tataran ekonomi global, pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran menentukan kuat tidaknya kondisi ekonomi suatu negara terhadap terpaan badai resesi ekonomi yang terjadi. Bila pertumbuhan ekonomi suatu negara mengalami kenaikan secara signifikan, berarti negara tersebut dalam kondisi ekonomi yang stabil dan kuat terhadap berbagai terpaan global.

Kedua, terjadinya defisit neraca pembayaran yang artinya negara mempunyai kondisi nilai impor lebih tinggi dibanding nilai ekspor. Nah, kondisi ini sedang dialami Indonesia. Inilah yang menjadi kekhawatiran. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia per Juli 2019 saja mengalami defisit US$ 63,5 juta. Bank Indonesia (BI) mencatat, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) kuartal II 2019 sebesar US$ 8,4 miliar. Hal ini berarti, defisit tersebut telah mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Angka ini telah menyentuh batas atas CAD, yang diprediksi hanya pada level 2,5%-3%dari PDB 2019. Seperti dilaporkan, tingginya CAD ini merupakan akibat dari perilaku musiman repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, dan kondisi perekonomian global. Penyebab yang terakhir inilah yang membuat beberapa harga komoditas turun dan berakibat kinerja ekspor Indonesia tak memuaskan.

Ketiga, adanya ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi. Keseimbangan antara produksi dan konsumsi menjadi dasar pertumbuhan ekonomi. Pada saat produksi dan konsumsi mengalami ketidakseimbangan, maka akan membuat siklus ekonomi terganggu. Bila kenaikan produksi tidak diikuti dengan penyerapan konsumsi, maka akan terjadi penumpukan stok barang. Sebaliknya, bila produksi rendah sedang konsumsi mengalami kenaikan, tentu saja kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi, akibatnya harus dilakukan impor.

Hal ini banyak terjadi pada beberapa komoditas bahan pangan dan manufaktur. Bila dalam jangka panjang terus terjadi nilai impor lebih besar dibanding ekspor, maka berakibat neraca perdagangan menjadi negatif. Akibat lainnya adalah terjadi penurunan laba bagi perusahaan sehingga berpengaruh pada lemahnya pasar modal dan turunnya permintaan. Akibat lainnya adalah terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karyawan. Walaupun di Indonesia saat ini tidak terlihat secara signifikan. Tetapi apa salahnya waspada melihat berbagai gejala-gejala negatif tersebut.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0013 || diagnostic_api_kanan = 0.0026 || diagnostic_web = 0.1800

Close [X]
×