kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Mewaspadai bayang-bayang resesi


Jumat, 06 September 2019 / 10:50 WIB
Mewaspadai bayang-bayang resesi

Reporter: Harian Kontan | Editor: Tri Adi

Keempat, adanya inflasi yang tinggi. Inflasi yang tinggi akan mempersulit kondisi perekonomian karena harga-harga komoditi akan melonjak dan tidak terjangkau dikalangan masyarakat terutama masyarakat bawah. Gejala ini pun tampaknya tidak terlihat signifikan di Indonesia. Data BPS memperlihatkan rata-rata inflasi sampai awal triwulan ketiga 2019 masih relatif rendah di bawah 5%.

Kelima, meningkatnya pengangguran. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian. Jika suatu negara tidak mampu menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal, maka tingkat pengangguran di negara tersebut jelas akan tinggi. Risikonya, daya beli rendah bahkan memicu keresahan dan kerusuhan serta tindak kriminal lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sampai saat ini kondisi pengangguran di Indonesia banyak diakibatkan lulusan sekolah menengah dan perguruan tinggi yang tidak terserap dalam dunia kerja sebagai akibat tidak kuatnya dunia usaha di Indonesia. Apalagi, bila impor tenaga kerja asing terus berlangsung, maka tentu saja akan menambah jumlah pengangguran. Meski begitu, saat ini pengangguran banyak tertolong oleh dunia aplikasi online, seperti ojek online di perkotaan yang begitu mudahnya keluar masuk.

Satu hal yang mengkhawatirkan dari beberapa indikator di atas adalah, utang luar negeri yang terus bertambah. Walaupun kemampuan membayar cukup bagus, namun bila tidak direm dapat menyebabkan akumulasi berbagai gejala penyakit kelesuan ekonomi terjadi dan saling mempengaruhi. Sudah saatnya berhitung ulang untuk me-reschedule dan me-reprofiling kembali utang luar negeri serta memperhitungkan ulang tambahan utang baru, walaupun secara rasio dan kemampuan dapat membayar cicilan dan pokoknya.

Akan tetapi hal ini menjadi beban APBN periode berikutnya karena kondisinya bisa jadi penuh ketidakpastian. Nah, saat kondisi tidak menguntungkan cicilan dan pokoknya besar, maka akan menjadi rentan terimbas berbagai efek global.

Indonesia, seperti negara lainnya di berbagai kawasan, yang sedang dibayang-bayangi resesi ekonomi, kendati secara umum perekonomian masih stabil. Situasi dapat memburuk bila Indonesia tidak antisipatif menghadapi pelemahan dan ketidakstabilan perekonomian global.

Untuk mengantisipasi gelombang resesi ekonomi tersebut memang diperlukan jurus dan penangkal yang ampuh. Perlu kepiawaian pemerintah untuk memainkan berbagai instrumen, termasuk peran instrumen fiskal dan moneter yang jitu. APBN 2020 sebagai instrumen fiskal perlu dioptimalkan dalam mengantisipasi merembesnya resesi global. Berkaca krisis global tahun 2008 yang dapat melewati badai tersebut adalah melalui penerapan beberapa strategi antara lain efisiensi fiskal melalui APBN.♦

Ragimun
Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan




TERBARU

Close [X]
×