kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Mewaspadai pelambatan manufaktur


Jumat, 04 Oktober 2019 / 14:40 WIB

Mewaspadai pelambatan manufaktur
ILUSTRASI. TAJUK - SS kurniawan

Kinerja manufaktur negara kita sepanjang Juli hingga September 2019 tertekan. Riset IHS Markit menunjukkan, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia di kuartal ketiga tahun ini hanya 49,2. Angka itu level terendah sejak akhir 2016 lalu.

Menurut IHS Markit, permintaan secara keseluruhan terus menurun. Ini tercermin dari penurunan permintaan baru selama dua bulan berturut-turut, Agustus dan September 2019. Bahkan, ini penurunan paling dalam sejak Juli 2017.

Permintaan domestik dan eksternal yang melemah mengakibatkan produksi terus berkurang. Perusahaan akhirnya menyesuaikan operasional di tengah penurunan penjualan yang berimbas pada pengurangan jumlah pekerja. Tenaga kerja pabrik tercatat menurun selama tiga bulan berturut-turut, ini yang tercepat semenjak akhir tahun 2017.

Ya, dalam beberapa tahun belakangan, pertumbuhan industri manufaktur terus melemah. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan sektor ini selama 2011 masih 6,2%. Lalu, angkanya melambat jadi 4,37% di 2013. Sejak saat itu, pertumbuhan industri manufaktur tidak pernah bangkit dari angka 4%. Terakhir, sepanjang 2018 lalu, sektor ini cuma tumbuh 4,27%.

Pemerintah perlu mewaspadai hal tersebut lantaran sektor manufaktur menjadi penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar. Kontribusinya di kisaran 19%20%. Alhasil, ketika industri manufaktur tumbuh melambat, maka pertumbuhan ekonomi kita ikut lambat.

Dampaknya, juga ke defisit neraca perdagangan kita. Sebab, ketika industri manufaktur lemah, ekspor non-migas juga bakal loyo. Celakanya, pelaku usaha gampang terpengaruh harga murah, tergoda impor. Buntutnya, lebih memilih impor ketimbang membangun industri.

Meminjam kalimat Johnny Darmawan, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo): kita mengalami deindustrialisasi dini. Sebab, itu tadi, pertumbuhan industri manufaktur melambat. Apalagi, di masa jaya atau keemasan, pertumbuhan sektor ini mencapai dua digit, bahkan pernah sampai di atas 20%. Tetapi sekarang, hanya 4% saja.

Meski begitu, peluang untuk tumbuh lebih tinggi masih ada. Sebagian kendala dasar sudah pemerintah coba atasi. Misalnya, membangun infrastruktur di sana sini, memberangus regulasi yang menghambat investasi, dan memberi insentif yang banyak. Yang tidak kalah penting, pemerintah harus terus mendorong daya beli masyarakat. Sehingga, permintaan bisa tinggi lagi.♦

S.S. Kurniawan


Reporter: SS. Kurniawan
Editor: Tri Adi

Video Pilihan

Tag

Close [X]
×