kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

MI Berbahaya?

oleh Djumyati Partawidjaya - Redaktur Pelaksana


Kamis, 05 Desember 2019 / 10:39 WIB
MI Berbahaya?
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Di awal tahun, ketika saya bertemu dengan beberapa analis, banyak dari mereka percaya saham di Indonesia tahun ini masih mampu naik. Walau tentu tidak akan bisa sebesar tahun-tahun sebelumnya, mengingat perekonomian dunia yang masih akan lesu. Gara-garanya, apalagi kalau bukan perang dagang Amerika dan China yang masih terus eyel-eyelan sampai sekarang belum ketahuan ujungnya.

Tapi sampai saat ini, IHSG tidak mampu tumbuh. Di posisi per (4/12) bahkan masih selisih -1,32% dibandingkan penutupan tahun lalu. Apa mungkin karena perekonomian dunia yang benar-benar lesu?

Kalau melihat kondisi pasar saham di negara lain, tesis itu rasanya menjadi sangat aneh. Pasar saham di negara-negara lain tidak seburuk di negeri kita. Lihat saja Dow Jones Industrial Average yang selalu dijadikan acuan kondisi pasar di negeri Paman Sam. Di akhir bulan lalu Dow Jones malah melejit membuat rekor baru sepanjang masa di 28.164. Indeks Hang Seng di Hong Kong, kawasan yang sudah berbulan-bulan dilanda demo besar, sampai Rabu (4/12) ternyata masih cukup kuat memberikan imbal hasil plus 0,84%.

Indikator-indikator perekonomian makro di Indonesia pun tidak ada yang salah. Pertumbuhan ekonomi masih di level 5%. Utang luar negeri kita pun ada dalam level yang sangat aman. Semuanya berjalan dengan terukur. Bahkan suku bunga acuan kita, sudah turun 4 kali sebesar 100 basis poin, dari 6% menjadi 5%. Lantas apa yang salah dengan pasar modal kita?

Sepertinya jawabannya adalah lagi-lagi masalah transparansi. Seperti diberitakan di banyak media, dua minggu lalu OJK menyemprit Narada Aset Manajemen, Minna Padi Aset Manajemen, dan Pratama Capital Asset Management. Walau minggu ini sudah kelihatan mereda, tapi dugaan saya api dalam sekam masih belum padam. Masalah besar masih ada dan mengintai.

Banyak cerita di pasar yang membuat banyak investor ritel memilih hengkang selagi ada kesempatan. Padahal susah payah kita membangun stabilitas sistem keuangan, literasi investasi, sistem perdagangan ritel yang lebih canggih, dan berbagai hal lainnya. Tapi tanpa tindakan yang tepat, semuanya bisa rontok dalam sekejap mata.

Semoga otoritas masih akan terus memegang amanahnya untuk membangun sistem keuangan yang sehat di negeri ini. Caranya, saya rasa hanya dengan sistem yang transparan dan otoritas yang selalu komit menjaga kepentingan para investor minoritas.

Penulis : Djumyati Partawidjaja

Redaktur Pelaksana




TERBARU

Close [X]
×