kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Mitigasi Bencana Korona

oleh Ismatillah A Nuad - Peneliti Indonesian Institute for Social Research and Development


Selasa, 17 Maret 2020 / 14:30 WIB
Mitigasi Bencana Korona
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Virus korona yang menyebar secara cepat ke seluruh belahan dunia, tak terkecuali di negeri kita Indonesia, sudah dapat dikategorikan sebagai bencana global. Para ahli sepakat bahwa bencana tidak hanya persoalan seperti banjir, gempa, karhutla, tanah longsor atau tsunami, tapi wabah penyakit pun masuk kategori bencana. Karenanya bencana korona memerlukan mitigasi atau penanganan matang terkait langkah dan upaya pencegahannya.

Secara bahasa, mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Hal ini sebetulnya telah diatur, misalnya, pada Pasal 1 ayat 6 PP No 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Penyelenggaraan mitigasi bencana dapat dilakukan dengan beberapa langkah teknis yang perlu disampaikan ke masyarakat agar fenomena ini teratasi secara tepat dan tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Dalam rangka itu, pemerintah perlu misalnya, mengerahkan lembaga-lembaga sukarelawan (voluter) seperti BNPB, Basarnas, dan lainnya untuk mendampingi masyarakat yang mengalami keresahan akibat wabah korona. Pendampingan tersebut bisa berupa pendampingan pendidikan mengenai apa dan bagaimana langkah prefentif mencegah virus korona, maupun pencegahan medis seperti pemberian masker, hand sanitizer dan keperluan medis lainnya.

Masalah fundamental dalam upaya pencegahan terhadap persoalan bencana ialah bagaimana pemerintah memperkuat kelembagaan relawan nasional. Tugasnya seperti juga yang dikembangkan di negara-negara maju, tak hanya pada masalah-masalah praktis, seperti evakuasi atau restrukturasi bangunan. Namun diperluas dalam bentuk memberi bantuan bidang pendidikan, masalah medis, informasi, keterampilan, dan sebagainya.

Di Australia, misalnya, menurut laporan Peter Britton, seorang manajer senior di Australian Volunteer International, telah mengembangkan dunia relawan semenjak dekade 50-an. Saat ini bidang volunteerism sudah sangat mapan dan bersifat permanen, bahkan go internasional.

Lebih dari 5.000 relawan dari Australia pada tahun 80-90an pernah disebarkan ke negara-negara seperti Afrika, kepulauan di Pasifik, Amerika Latin, Timur Tengah maupun pada suku asli Australia, yang membutuhkan bantuan pertolongan dalam bidang medis dan kesehatan, pendidikan dan pengajaran, teknologi informasi, keterampilan sosial, dan pertanian.

Para relawan itu bekerja baik untuk pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun untuk masyarakat sipil (LSM) atau pihak-pihak swasta. Mereka diambil dari berbagai kalangan yang memiliki idealisme dan tanggung jawab serta memiliki kepekaan (sensitivitas) pada masalah-masalah sosial. Mereka dibekali kemampuan, atau mendapat pelatihan-pelatihan khusus dari lembaga yang menyelenggarakan relawan itu.

Di Australia, dunia relawan tak hanya bagi kepentingan negara, namun dunia relawan juga diperuntukkan bagi negara-negara lain yang membutuhkannya, dan dieksekusi dalam sebuah jaringan international volunteerism. (Peter Britton, International Volunteerism and Global Survival, 2002).

Para relawan memiliki latar belakang komitmen pada keinginan dan kecintaan mereka untuk kemanusiaan. Dedikasinya ditujukan tak hanya bagi kepentingan negara itu sendiri, tapi lebih karena kepedulian untuk menolong sesama, belajar membina sensitivitas sosial, membuka hubungan dengan beragam etnik dan budaya.

Para relawan memberi kontribusi bagi pengembangan sebuah komunitas yang terkena bencana atau sebuah komunitas-terbelakang dilandasi kesetaraan hubungan kemanusiaan.

Di India dan Pakistan, misalnya, relawan nasional bentukan LSM yang mengampanyekan bahaya HIV/AIDS dan bagaimana harus menghindarinya, didukung oleh pihak-pihak lokal, baik pemerintah maupun lembaga donor lokal.

Seorang aktivis dari Asian Resources Foundation, Thailand, Lekha Paireepinath, menyebut betapa esensialnya dunia relawan atas kelangsungan hidup kemanusiaan: bagi wanita yang sering terkena dampak patriarki sosial, anak-anak terlantar, pengungsi bencana maupun perang dan lainnya yang terjadi dalam sebuah komunitas negara atau lokal area. (Lekha Paireepinath, Volunteerism and Human Survival, 2002).

Pentingnya Kerjasama

Memang jauh dari memadai jika persoalan kemanusiaan ditimpakan hanya kepada pemerintah saja, atau hanya pada pihak-pihak non-pemerintah. Semestinya, pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun LSM-LSM yang beroperasi baik di pusat maupun di daerah, bergerak dalam satu visi kemanusiaan demi kesejahteraan dan kecintaan. Dalam hal itu, sudah saatnya Indonesia sebagai negara-bangsa memiliki sistem yang mapan dalam soal relawan, sebagaimana di negara-negara seperti Thailand, India, Pakistan, Australia, Jepang, Amerika, dan di negara-negara Eropa.

Dunia relawan merupakan perimbangan atas terjadinya bencana dan disparitas sosial di dalam masyarakat kurang beruntung dan daerah-daerah terpencil. Bagaimanapun dunia kita masih memiliki hampir semua problematik kemanusiaan, tak hanya bencana alam, maupun wabah penyakit seperti korona, tapi juga masih rentan konflik, problem sosial dari mulai anak-anak dan keluarga terlantar, mewabahnya penyakit menular HIV/AIDS. Semua itu menuntut upaya perbaikan lewat sebuah sistem yang terlembagakan dan diartikulasi oleh relawan-relawan kemanusiaan secara profesional, baik oleh pemerintah maupun non-pemerintah.

Dengan jaringan relawan ketika kita melihat tragedi kemanusiaan, kita tidak lagi berpikir mengapa dan apa yang harus diperbuat, dengan sebuah tanda tanya yang membingungkan. Melainkan kita sudah selalu siap atas kemungkinan-kemungkinan terburuk akan semua fenomena baik yang sudah, sedang dan belum terjadi.

Penulis : Ismatilah A Nu'ad

Peneliti Indonesian Institute for Social Research and Development




Close [X]
×