kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.595
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS610.041 0,33%

Nasib masa depan arbitrase Indonesia

Selasa, 13 Februari 2018 / 13:49 WIB

Nasib masa depan arbitrase Indonesia



Penggunaan arbitrase semakin marak dan menjadi keniscayaan bagi para pelaku bisnis dalam menyelesaikan sengketa bisnis. Salah satu indikator yang dapat dilihat adalah dari pendaftaran perkara di Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI). Pada tahun 1977-1986, hanya terdapat 27 perkara yang didaftarkan, kontras dengan yang ditemukan dalam tahun 2007-2016 yang sebanyak 728 perkara. Artinya, dalam waktu empat dekade berdiri BANI, terjadi peningkatan perkara nyaris 40 kali lipat. Ini sebuah jumlah yang cukup fantastis.

Namun demikian, jumlah itu masih kalah jauh dengan jumlah sengketa yang ditangani oleh Mahkamah Agung. Untuk tahun 2016 saja, penumpukan perkara di Mahkamah Agung ada sekitar 2.550 perkara, atau hampir empat kali lipat dari perkara yang ditangani oleh BANI pada kurun waktu satu dasawarsa di akhir 2016 silam. Artinya, pengadilan masih menjadi pilihan utama dalam penyelesaian sengketa.

Sekalipun demikian, upaya perbaikan institusi yang dengan gigih dijalankan oleh Mahkamah Agung patut diapresiasi. Juga, prestasi dan capaian arbitrase di Indonesia sebagai salah satu alternatif penyelesaian sengketa yang terlihat dari ease of doing business di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa ada harapan untuk bangsa ini mencapai hari depan yang cerah di bidang penegakan hukum.

Dengan perbaikan yang konstan serta tren pemilihan arbitrase sebagai jalur penyelesaian sengketa, harapan agar penyelesaian sengketa diselesaikan secara win-win solution, cepat, dan murah, hal mana merupakan keunggulan dari arbitrase, akan semakin berpeluang besar. Dalam hal ini, arbitrase berpeluang untuk menggantikan peran pengadilan dalam penyelesaian sengketa keperdataan, khususnya bidang bisnis.

Apabila arbitrase di Indonesia dapat berkembang, penyelesaian sengketa di bidang bisnis dapat mulai dialihkan dari pengadilan sehingga penumpukan perkara yang selama ini menjadi tantangan terbesar Mahkamah Agung dapat terbantu untuk teratasi. Dan, jika tren ini berlanjut, maka peran pengadilan dapat digeser hanya menjadi tempat penyelesaian sengketa yang memang bersifat publik.

Hal ini tentu akan semakin memudahkan manajemen perkara di pengadilan, spesialisasi bidang keilmuan hakim yang akan direkrut, serta manajemen anggaran untuk kesejahteraan hakim, yang mana semuanya akan bermuara pada peningkatan kualitas putusan dan keadilan di masyarakat. Inilah disrupsi yang positif di bidang penegakan hukum apabila arbitrase berhasil digalakkan.


Video Pilihan

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0621 || diagnostic_web = 0.4322

Close [X]
×