kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45791,43   6,87   0.88%
  • EMAS938.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

New Model Bisnis

oleh Djumyati Partawidjaja - Redaktur Pelaksana


Selasa, 30 Juni 2020 / 12:49 WIB
New Model Bisnis
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Gara-gara pandemi Covid-19, ada banyak kebiasaan baru yang harus diadaptasi masyarakat dan otoritas di berbagai negara. Bukan cuma urusan imbauan supaya setiap orang mau menjaga jarak (yang sering dilanggar), rajin mencuci tangan, atau memakai masker, tapi juga perubahan-perubahan dalam model bisnis.

Para pengusaha bukan hanya dituntut mengubah model bisnisnya menjadi lebih rajin memajang dagangannya dalam etalase online, tapi juga mengubah model bisnisnya untuk bisa beradaptasi menghadapi masalah-masalah baru. Masalah yang mungkin tidak pernah terpikirkan akan dihadapi pengusaha, seperti strategi menolak pembelinya.

Banyak orang yang rindu menikmati makanan atau hiburan yang selama ini harus mereka tahan karena PSBB selama 3 periode. Pada saat PSBB mulai dilonggarkan dan beberapa usaha mulai dibuka, siapa yang bisa menahan orang-orang yang dilanda rindu itu menyerbu gerai-gerai yang sudah dibuka?

Celakanya, tanpa dikontrol serbuan para pembeli itu dengan mudah berubah menjadi kerumunan antrean berjubel, yang bisa jadi hot spot baru sebaran Covid-19. Akan jadi pekerjaan rumah besar bagi siapa pun agar bisa disiplin jaga jarak.

Beberapa minggu lalu Pemda DKI ingin membatasi kios-kios yang dibuka Pasar Tanah Abang dengan pengaturan ganjil-genap. Tentu saja para pedagang merasa pengaturan ini akan sangat merugikan bisnisnya. Tapi otoritas Pemprov DKI Jakarta merasa pembatasan kios ini harus dilakukan untuk membatasi pengunjung. Tapi apakah benar kalau kios yang dibatasi, akan membuat pengunjung juga berkurang?

Para pengusaha tentu saja merasa membatasi pengunjung bukanlah jadi tugas dan kewajibannya. Tak banyak pengusaha yang mau secara aktif mengatur jumlah pengunjungnya. Tentu saja ceritanya menjadi berbeda kalau kita bicara fasilitas umum, seperti transportasi umum, hutan, atau taman kota karena mereka tidak murni komersial.

Kalau pun pembatasan konsumen sudah menjadi kewajiban, bukan berarti pembatasan akan berjalan lancar. Bisa kita lihat manajemen kereta api yang kerepotan membatasi jumlah penumpangnya. Antrean masih panjang di jam-jam sibuk.

Selain itu, para pengusaha juga tidak bisa lagi berdiri sendiri. Model bisnis lama tak akan bisa feasible di dalam kondisi sekarang. Mereka harus bisa menggandeng pemilik properti, jaringan vendor, sales, dan komunitas untuk bisa sama-sama maju dengan berbagi rezeki.

Penulis : Djumyati Partawidjaja

Redaktur Pelaksana



TERBARU

[X]
×