kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Optimalkan penggunaan tepung lokal


Senin, 11 Februari 2019 / 16:16 WIB

Optimalkan penggunaan tepung lokal


Indonesia tercatat sebagai salah satu negara pengimpor gandum terbesar di dunia. Sepanjang tahun 2017 - 2018 volume impor bertengger pada angka 12,5 juta ton dan konsumsi tepung nonlokal ini meningkat dari 10,1 kilogram (kg)/kapita/tahun di tahun 2013 menjadi 14,1 kg/kapita/tahun tahun 2017 (Susenas BPS, 2017).

Meningkatnya konsumsi gandum menunjukkan kegagalan kebijakan diversifikasi konsumsi pangan. Padahal, dari aspek kebijakan, telah ada Peraturan Presiden (Perpres) No 22 Tahun 2009 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Berbasis Sumber Daya Lokal. Pasal 41 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan juga telah mengamanatkan tentang penganekaragaman pangan.

Namun konsumsi masyarakat cenderung seragam dengan proporsi gandum dalam sembilan kelompok bahan pangan pokok terus meningkat dan sekarang sudah melewati ambang kritis. Ketergantungan pada konsumsi produk olahan gandum mengancam kedaulatan nasional bidang pangan pangan di tengah melimpahnya pangan non-beras berbasis sumber pangan lokal.

Kebijakan penganekaragaman pangan belum dibarengi dengan penganggaran dan terkesan hanya sekadar wacana besar. Keberagaman pangan lokal semakin terpinggirkan karena pemerintah lebih memprioritaskan padi, jagung, dan kedelai. Kita memiliki 77 sumber karbohidrat lokal, di antaranya jagung, ubi kayu, ubi jalar, sagu, garut, sukun, dan pisang. Berbagai pangan lokal ini mengandung karbohidrat tinggi dan potensial jadi pengganti tepung beras dan terigu. Namun belum diposisikan sebagai pilar kedaulatan pangan ke depan.

Optimalisasi penggunaan tepung lokal untuk substitusi terigu patut dijadikan topik penting dalam debat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mengusung tema Pangan 17 Februari 2019.

Pemimpin bangsa dalam lima tahun ke depan harus paham beragam potensi pangan lokal untuk dioptimalkan pemanfaatannya sebagai kekuatan kedaulatan pangan. Meski kabinet kerja pemerintahan Joko Widodo - Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sudah bekerja keras sekitar empat tahun terakhir, di tengah kebutuhan pangan dalam negeri yang meningkat, Indonesia belum sepenuhnya dapat berdaulat di bidang pangan.

Sementara lahan pertanian pangan yang selama ini diandalkan untuk memenuhi kebutuhan beras luasnya makin menyusut. Pertanyaannya bagaimana grand disain kedaulatan pangan pasca Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019?

Pertanyaan ini semakin menarik didiskusikan terkait dengan kebijakan politik pangan Presiden terpilih 2019 untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Selama sepuluh tahun belakangan ini politik pangan untuk membawa bangsa agraris ini berdaulat atas pangan dibalut awan gelap.

Pasar domestik dibanjiri pangan impor karena kebijakan pengelolaan pangan yang kian liberal dan kapitalistik. Ditambah dengan ketidakpahaman pemerintah provinsi, kabupaten dan kota tentang kebijakan kedaulatan pangan sehingga tiap tahun lahan pertanian pangan di Indonesia mengalami konversi seluas 100.000 hektare (ha). Kondisi ini diperburuk dengan reforma agraria yang semakin abu-abu dan pola konsumsi pangan masyarakat yang kian berpusat ke beras dan terigu.

Masyarakat Indonesia termasuk pemakan nasi terbanyak di dunia. Rata-rata penduduk Indonesia mengonsumsi beras kurang lebih 130 kg per tahun. Indonesia semakin lambat dalam kegiatan diversifikasi pangan karena pemerintah mengeluarkan kebijakan rastra (beras untuk orang miskin), yang dapat dibeli dengan harga murah. Hal itu semakin memudahkan masyarakat untuk mengakses beras dan sekaligus membonsai penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal.

Pertumbuhan penduduk yang masih tinggi dan tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan berbasis wilayah atau sumber daya lokal akan mendorong harga kebutuhan dasar ini makin mahal. Kenaikan harga komoditas pangan, menurut Dana Moneter Internasional (IMF), dipicu dua faktor utama, yang sifatnya permanen maupun temporer, yakni pesatnya alih fungsi lahan dan lambatnya penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0030 || diagnostic_api_kanan = 0.0109 || diagnostic_web = 0.2587

Close [X]
×