kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Optimalkan penggunaan tepung lokal


Senin, 11 Februari 2019 / 16:16 WIB

Optimalkan penggunaan tepung lokal


Program berkelanjutan

Untuk itu, ada dua program berkelanjutan kedaulatan pangan pasca Pilpres 2019 yang mendesak untuk dilakukan. Pertama, upaya realisasi penyediaan lahan abadi pertanian. Pemerintah harus segera menyiapkan dan menambah luas lahan pertanian sehingga bisa mendukung pencapaian ketahanan pangan yang mandiri dan berdaulat.

Lahan pertanian pangan harus tersedia di seluruh wilayah untuk meningkatkan produksi pangan, terutama beras, jagung, gula, kedelai, sagu, sorgum, umbi-umbian, dan pangan lokal lainnya. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan pangan hewani, selain perluasan berbagai padang savana yang ada, bisa juga memanfaatkan perkebunan negara yang cukup luas di seluruh tanah air untuk pemeliharaan ternak sapi, kerbau, kambing dan jenis hewan lainnya di sela-sela tanaman pokok kebun karet, sawit, jati atau tanaman keras lainnya yang bisa dikolaborasi.

Kedua, percepatan penganekaragaman konsumsi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada salah satu jenis bahan pangan. Meskipun program ini sudah lama berjalan, keberhasilannya masih lambat. Penurunan konsumsi beras sebanyak 1,5% per tahun telah berhasil, namun diduga karena konsumen beralih ke pangan berbahan baku terigu, seperti mi instan dan roti.

Mesin percepatan penganekaragaman konsumsi pangan harus terus dihidupkan. Program sederhana "one day no rice" harus dikampanyekan lebih konkret di lapangan dengan mengajak khalayak. Publik perlu diingatkan makan pagi, siang, atau malam tak selalu harus dengan nasi, mi atau roti dari terigu. Gerakan ini harus dirancang lebih persuasif sehingga masyarakat mau diajak terlibat untuk mengatrol tingkat konsumsi berbagai jenis pangan lokal.

Selain itu, penguasaan teknologi dan inovasi pengolahan pangan lokal non-beras harus terus digalakkan guna meningkatkan ketersedian berbagai jenis tepung lokal. Pelaku usaha tepung lokal berbahan sorgum, garut, sagu, jagung, mocaf berbahan singkong, hingga sukun saat ini mulai berkembang.

Namun, kebanyakan usaha ini dilakukan industri skala kecil dengan pasokan dan kualitas yang belum stabil, sehingga kalah bersaing dengan terigu. Padahal dari sisi gizi, tepung lokal ini mengandung serat tinggi, beta karoten tinggi yang berguna sebagai antioksidan, bebas gluten, dan indeks glikemik yang rendah sehingga cocok untuk penderita diabetes.

Ke depan, produk tepung lokal harus bisa bersanding dengan produk tepung berbasis terigu atau beras. Gerbong pendorong penganekaragaman konsumsi pangan non-beras berbasis sumberdaya lokal akan bergerak lebih cepat jika pemerintah mampu mengatrol citra pangan lokal ini. Dengan bauran minimal 20 persen (B20) tepung lokal pada produk olahan mie dan roti misalnya dan dirangkai dengan promosi yang gencar di media massa.•

Posman Sibuea
Guru Besar Unika Santo Thomas Medan, Sumatra Utara


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0006 || diagnostic_web = 0.1616

Close [X]
×