Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.185
  • EMAS658.000 0,30%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Pajak dan MRO pasca-Max 8 berhenti

Rabu, 10 April 2019 / 13:17 WIB

Pajak dan MRO pasca-Max 8 berhenti

Industri pionir tidak harus langsung dengan membuat komponen pesawat. Bengkel atau servis pesawat alias Mechanical, Repairing, and Overhaul (MRO) juga penting, selain untuk devisa, juga kepentingan pengembangan industri komponen pesawat.

Kecelakaan pesawat jenis Boeing 737 Max 8 milik Ethiopian Airlines diikuti dengan pelarangan Max 8. Negara paling awal melarang Max 8 adalah The Civil Aviation Administration of China (CAAC). Pangsa pasar Boeing cukup besar, karena maskapai di China memiliki 65 Max 8. Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat (AS) dan Boeing akhirnya melarang penerbangan semua 371 pesawat seri 737 Max 8.

Pelarangan CAAC atas penerbangan dengan Max 8, bisa menjadi peluang untuk industri penerbangan China. China sejak 2016 sudah merancang pesawat Commercial Aircraft Corporation of China (Comac). Pesawat Comac 919 dirancang untuk meruntuhkan duopoli Airbus dan Boeing. Seri Comac 919 akan berebut pasar dengan seri Airbus A318, A319, A320. dan seri 737-600, 737-800, dan 737-900. Nilai investasi China untuk Comac 919 mencapai US$ 7 miliar (Rp 98 triliun).

Meski diproduksi di China, Comac masih menggunakan pasokan mesin dan peralatan dari Eropa dan Amerika Serikat, seperti General Electric (GE) dan Rolls Royce. Comac sendiri belum bisa dipasarkan di luar China, kecuali ada rekomendasi dari FAA. Tidak banyak negara pembuat pesawat jet. Di ASEAN bahkan hanya Indonesia yang membuat pesawat.

Indonesia mulai mengarah ke industri pesawat N219. Beberapa pesawat militer adalah hasil produksi dalam negeri. Tentu saja dengan banyak komponen impor, karena tidak ada di Indonesia. Tidak mungkin industri pesawat memproduksi sendiri semua komponen, karena terlalu mahal investasinya.

Produsen Indonesia yang telah menghasilkan komponen sekitar tiga pabrik yaitu PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan dua perusahaan luar negeri. PTDI selain menghasilkan pesawat dan helikopter, juga memasok komponen ke Boeing dan Airbus.

Apakah industri komponen pesawat Indonesia sudah maju? Sampai saat ini, industri pesawat di Indonesia lebih ke arah pendukung, bukan pemasok utama komponen pesawat. Yang lebih mengancam : pencetakan tiga dimensi (3 D) untuk komponen pesawat. Komponen pesawat bisa dibuat dengan bahan termoplastik melalui printer 3D.

Industri manufaktur akan berubah dari scale of economies ke arah economic of ones. Tenaga kerja akan banyak hilang, bahkan sebuah usaha rintisan atau startup Relativity Space sedang membuat mesin roket dengan printer 3D, dan hasilnya dalam 20 hari bisa menyelesaikan pembuatan mesin roket dengan kekuatan 10% roket asli pabrik.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0499 || diagnostic_web = 0.3763

Close [X]
×