kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45742,47   -11,71   -1.55%
  • EMAS1.007.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Pandemi Hoaks

oleh Thomas Hadiwinata - Redaktur Pelaksana


Sabtu, 08 Agustus 2020 / 18:01 WIB
Pandemi Hoaks
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Virus korona tidak hanya menyebabkan pandemi Covid 19. Virus yang resminya bernama SARS-CoV-2 itu juga mengakibatkan pandemi misinformasi. Ya, selama pandemi Covid 19, dunia seakan dibanjiri dengan berbagai spekulasi dan teori konspirasi, kabar yang tidak bisa diverifikasi, hingga informasi yang jelas-jelas keliru.

Kabar yang tidak benar, alias hoaks tentang virus korona itu tumbuh subur di berbagai platform media sosial, semacam Facebook, Twitter hingga Youtube. Bentuknya tak cuma informasi yang jelas-jelas keliru, tetapi bisa juga berupa teori konspirasi, spekulasi yang tidak memiliki dasar hingga klaim yang tidak bisa diverifikasi.

Di dalam negeri, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menghitung ada 544 berita palsu tentang virus corona yang beredar sepanjang tahun ini. Jumlah hoaks yang dihitung Kementerian Komunikasi dan Informatika malah lebih tinggi lagi, yaitu mencapai 1.160 hoaks. Dan angka itu tercatat selama periode yang lebih pendek, yaitu 23 Januari hingga 1 April 2020 saja.

Dari ratusan hingga ribuan berita bohong tentang virus korona yang pernah beredar di sini, tentu ada satu-dua yang pernah kita dengar. Mungkin Anda pernah mendengar teori konspirasi tentang pandemi yang direkayasa oleh mantan orang paling kaya sedunia. Atau, klaim tentang penemuan obat korona.

Kecenderungan yang sama terjadi juga di luar negeri. Bahkan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah ikut-ikutan menyebarkan spekulasi yang tidak berdasar tentang virus korona:

Kecenderungan yang sama juga terjadi di negara-negara lain. Betapa masifnya peredaran kabar bohong tentang virus korona di dunia bisa terlihat di Facebook.

Mengutip Reuters, sejak WHO mendeklarasikan Covid 19 sebagai pandemi, Facebook sudah menghapus tujuh juta potong konten. Catatan saja, angka itu baru merujuk ke konten yang benar-benar terbukti membahayakan banyak orang. Misal, tentang tidak ampuhnya phy-sical distancing.

Sedang konten sejenis klaim tak berdasar, seperti penemuan vaksin atau obat, masih belum dihapus. Alasannya? Facebook menghadapi kesulitan untuk mencari bukti bahwa klaim tersebut bohong.

Jadi, tak perlu kaget, apalagi langsung percaya, kalau mendengar ada pihak yang mengklaim telah menemukan obat atau vaksin. Cukup mempertanyakan apakah obat atau vaksin itu sudah melalui tahap pengujian secara medis.

Penulis : Thomas Hadiwinata

Redaktur Pelaksana


Tag

TERBARU

[X]
×