kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.335
  • EMAS679.000 -0,29%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Panen di awal tahun

Kamis, 31 Januari 2019 / 11:31 WIB

Panen di awal tahun

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno boleh lega hati. Target setoran BUMN untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2019 sudah hampir separuh di tangan. Sebab laba empat bank pelat merah sepanjang 2018 melonjak tinggi ketimbang 2017.

Pencetak laba terbesar Bank BRI Tbk membukukan laba Rp 32,4 triliun pada 2018. Laba bersih ini naik 11,6% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 29 triliun. Kedua Bank Mandiri Tbk dengan pencapaian laba bersih konsolidasi sebesar Rp 25 triliun atau naik 21,2% secara year on year dibandingkan dengan 2017 lalu yang mencapai Rp 20,6 triliun.

Peringkat ketiga Bank BNI Tbk dengan laba bersih 2018 sebesar Rp 15,02 triliun. Angka tersebut tumbuh 10,3% dari capaian 2017 yang sebesar Rp 13,62 triliun.

Kini tinggal Bank BTN yang belum mengumumkan kinerja 2018. Namun mengacu target dari manajemen bank spesialis kredit perumahan rakyat ini menargetkan pertumbuhan laba kisaran 25% dari 2017. Artinya jika mengacu target tersebut, laba bersih BTN tahun ini bisa mencapai Rp 3,8 triliunan.

Artinya laba empat bank besar milik pemerintah sudah mencetak laba sekitar Rp 76,19 triliun. Dengan asumsi pembagian deviden jatah pemerintah sama dengan tahun lalu, maka kisaran laba bersih yang akan dibagikan dari empat bank BUMN ini kepada pemerintah dan pemegang saham lainnya, sekitar Rp 29,59 triliun. Tentu target dari APBN 2019 kepada Kementerian BUMN untuk menyetor deviden BUMN sebesar Rp 15,89 triliun sudah cukup.

Kini, Menteri BUMN tinggal menyisir setoran dari BUMN non perbankan. Sebab target setoran dari BUMN non-perbankan tidak kecil yakni mencapai nonperbankan sebesar Rp 29,61 triliun.

Tapi perlu diingat. Kendati ada panen penerimaan negara di awal tahun dari BUMN, pemerintah musti tetap memperhatikan beberapa hal. Sebab, pertama, APBN 2109 telah menggariskan bahwa Kementerian BUMN harus mempertimbangkan profitabilitas dan likuiditas BUMN. Kedua, menjaga persepsi investor, karena pembagian laba gede bisa menurunkan nilai pasar dari BUMN yang mencatatkan sahamnya di pasar saham. Ketiga, BUMN harus bisa menjalankan penugasan dan menjadi agen pembangunan. Jangan sampai untuk mengejar laba tinggi bank mengabaikan daya serap sektor usaha dan kemampuan mereka mengangsur bunga kreditnya.•

Syamsul Ashar


Reporter: Syamsul Ashar
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0723 || diagnostic_web = 0.7804

Close [X]
×