kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pariwisata di Tengah Badai

oleh AB. Sadewa - Praktisi Pariwisata Indonesia dan Advisor World Travel & Tourism Council (WTTC)


Kamis, 19 Maret 2020 / 12:36 WIB
Pariwisata di Tengah Badai
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan adanya kasus positif virus korona (Covid-19) di Indonesia pada tanggal 2 Maret 2020 lalu, ekonomi Indonesia langsung mengalami kontraksi disertai kekhawatiran publik yang meningkat. Segala upaya untuk menjaga ekonomi nasional dilakukan, namun kepanikan menyergap lebih kuat ketimbang kesadaran untuk menjaga ekonomi nasional tetap stabil.

Boleh dibilang penyebaran korona ini terbagi menjadi tiga gelombang besar: Gelombang pertama, ketika korona menjadi endemi di China pada bulan Januari; Gelombang kedua, ketika korona mampu keluar dari China menyebar ke Korea Selatan, Jepang, dan menyebar parah ke Eropa melalui Italia. Gelombang ketiga, ketika korona masuk ke Indonesia.

Pariwisata yang selama lima tahun terakhir dipercaya sebagai lokomotif ekonomi yang dapat merangsang tumbuhnya ekonomi lokal langsung tumbang karena masyarakat takut bepergian. Ditambah ketika kasus korona di Indonesia terus naik, beberapa daerah langsung menerapkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Presiden juga menganjurkan untuk sekolah, bekerja, dan beribadah dari rumah, serta tak bepergian jika tidak perlu untuk 14 hari ke depan.

Penerapan KLB berujung pada penutupan fasilitas-fasilitas rekreasi umum tempatnya orang berkumpul yang sekaligus menjadi destinasi wisata. Tindakan ini dipercaya mampu meredam penyebaran korona, namun demikian juga memberi pengaruh kepada industri pariwisata Indonesia.

Industri pariwisata Indonesia di bulan Januari hingga pertengahan Februari masih lega dengan tidak ditemukannya korona di wilayah Indonesia, sehingga masih menerima wisatawan mancanegara (wisman) dari beberapa negara dan berharap dari pasar wisnus (domestik). Pariwisata inbound masih bisa bernafas karena tidak semua wisman ke Indonesia berasal dari China, namun pasca masuknya Korona di daratan Eropa, maka gelombang kedua dimulai.

ITB Berlin, sebuah ajang b2b trade show pariwisata terbesar dunia harus dibatalkan pada awal Maret lalu akibat penyebaran virus Korona di beberapa negara Eropa. Pembatalan ITB Berlin tahun ini merupakan indikator bagaimana kinerja pariwisata dua tahun kedepan akan melambat. Berbeda dengan sektor inbound, pariwisata outbound mulai terpengaruh ketika China mulai terkena endemik Korona di Januari 2020. Minat wisnas mengunjungi China untuk pelesiran cukup tinggi namun persepsi masyarakat Indonesia sudah kadung takut tertular virus korona jika bepergian ke luar negeri.

Hal ini makin diperparah dengan beragam hoaks dan pemberitaan media yang kurang berimbang. Alhasil, ketakutan semakin memperburuk pasar. Melihat kondisi ini, para pemain pariwisata nasional langsung fokus untuk menangkap potensi wisnas diubah menjadi wisnus dengan menawarkan beragam paket, mulai staycation di hotel, jalan-jalan sambil kulineran, hingga opentrip dengan konsep aman karena di Indonesia belum ada Korona. Bahkan pemerintah memberi insentif diskon tiket pesawat untuk penerbangan domestik, serta tax rebate bagi hotel-hotel di 10 destinasi.

Namun pasca penerapan KLB yang dilakukan pemerintah daerah, banyak destinasi wisata didaerah yang ditutup, sehingga paket liburan apapun yang dibuat tidak akan laku dijual ke konsumen. Ujung-ujungnya upaya pelaku industri menjadi sia-sia.

Pariwisata pasarnya bukan hanya wisatawan leisure, namun juga wisatawan bisnis. Wisatawan bisnis yang biasanya menggunakan layanan meeting, incentive, convention, exhibition (MICE) pun langsung loyo. Dari segmen layanan rapat, perjalanan insentif/ reward, konvensi, jelas kebanyakan korporasi akan menunda penyelenggaraan rapat, perjalanan insentif, dan konvensi ke luar negeri ataupun ke Indonesia.

Kebanyakan akan menunda ke semester dua tahun ini, namun siapa yang tahu kondisi Korona yang bisa berubah jam demi jam. Usaha pameran pun setali tiga uang dengan segmen MICE lainnya, banyak peserta pameran mundur dan bisa kita lihat bagaimana sepinya beberapa pameran yang kini berlangsung. Hal ini diperburuk dengan pemberlakuan larangan keramaian saat pemerintah pusat belum merilis anjuran untuk social distancing.

Bagaimana dengan sektor perhotelan? Hingga bulan Maret ini, okupansi hotel rata-rata di angka 20% bergantung kota dan areanya, namun di angka tersebut pengusaha hotel harus bersiap yang terburuk dengan merumahkan karyawan kontrak mereka. Potensi yang hilang untuk sektor perhotelan dan restoran sebesar US$ 1,5 miliar. Sayangnya, pemerintah tidak memasukkan relaksasi Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan PPh Pasal 25 untuk sektor pariwisata, Pemerintah hanya memasukkan 19 sektor yang kebanyakan manufaktur tanpa ada sektor pariwisata yang dianggap low hanging fruit dan memberikan dampak ekonomi mikro ke masyarakat bawah. Para pemain industri pariwisata berharap Pemerintah menambahkan sector pariwisata kedalam paket relaksasi yang baru dirilis minggu lalu.

Ekonomi vs kesehatan

Kita menghadapi kondisi dilematis, antara memilih menjaga ekonomi tetap tumbuh atau memelihara kesehatan masyarakat dalam menekan laju wabah Korona melalui pemberlakuan social distancing ataupun lockdown.

Keduanya bukan pilihan ideal bagi usaha pariwisata. Beragam larangan, rekomendasi, dan aturan dikeluarkan pemerintah pusat dan daerah untuk menekan laju penularan virus Korona, namun di sisi lain ekonomi harus tumbuh dari beragam sektor usaha.

Dengan kondisi ketakutan dan kepanikan masyarakat untuk tidak bepergian dan ditambah pembatasan pergi keluar rumah akan menjadi ujian dan tekanan bagi para pelaku pariwisata. Sektor pariwisata sudah mencoba beragam upaya agar dapat tetap bertahan, namun begitu pilihan yang harus diambil demi keselamatan dan kesehatan bangsa.

Paska lockdown yang dilakukan negara-negara di dunia akan menciptakan interlocking antar kawasan regional. Hal tersebut tentu saja dapat menekan perekonomian dunia akibat pembatasan masuk dan keluar. Perlu upaya preventif namun tepat dengan melakukan pembatasan terbatas untuk negara yang memiliki banyak kasus korona.

World Travel & Tourism Council 9WTTC) sebagai perkumpulan pelaku pariwisata dunia menekankan pentingnya prioritas peningkatan kesehatan publik dibanding menutup pintu masuk secara total. Kerjasama pemerintah dan swasta atau public private partnership sebagai upaya menekan pandemi korona dan persiapan pemulihan ketika pandemi ini mulai sirna juga harus mulai diupayakan agar pasar bangkit bisa lebih cepat dan industri tidak mati suri karena korona.

Penulis meyakini bahwa periode pemulihan segera tiba, yakni ketika semua orang yang selama ini terkungkung di rumah dapat menikmati pelesiran dan kembali mengemas koper untuk mencari destinasi-destinasi wisata dunia. Semoga Indonesia dan dunia dapat segera keluar dari pandemi virus korona ini.

Penulis :AB Sadewa

Praktisi Pariwisata Indonesia dan Advisor World Travel & Tourism Council (WTTC)




Close [X]
×