kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.945
  • EMAS704.000 -1,40%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Pemerataan spasial sektor properti


Selasa, 09 Juli 2019 / 09:30 WIB

Pemerataan spasial sektor properti

Terhitung awal bulan ini, kita memasuki semester II-2019. Meski beberapa kondisi perekonomian global berubah di sepanjang semester pertama, kita patut mensyukuri selesainya perjalanan panjang periode pemilihan umum.

Semangat pemerintah untuk mendorong perekonomian melalui sektor properti terlihat melalui penyesuaian terkait batasan harga jual rumah subsidi di Kepmen PUPR 535/KPTS/M/019 serta pajak rumah mewah di PMK 86/PMK.010/2019. Meski tumbuh positif, sektor properti masih diharapkan bisa mencapai performa lebih baik untuk meningkatkan angka pemilikan rumah dan pemerataan spasial.

Ditinjau dari performa kredit residensial perumahan dan apartemen, kredit pemilikan masih terus tumbuh positif meski melambat dibandingkan periode sama tahun lalu. Terhitung April 2019, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) secara total tumbuh 13,75% YoY, yang merupakan pencapaian terbaik sepanjang tahun berjalan. Pencapaian ini didorong pertumbuhan KPR sebesar 13,44% YoY atau lebih tinggi 58 bps dibandingkan dengan Maret 2019. Sedangkan KPA, meski melambat, tetap tumbuh 21,03% YoY.

Namun, perlu ditelaah bahwa pembangunan sektor properti tidak melulu terkait penyerapan kredit. Secara garis besar, mengurangi angka backlog nasional menjadi tujuan utama pemerintah. Per akhir 2018, kami memperkirakan backlog sebanyak 12,1 juta rumah. Jumlah itu tidak tersebar merata seiring populasi yang sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Hal ini menjadi poin penting mengingat pembangunan properti membutuhkan ketersediaan lahan (land bank) yang jumlahnya terbatas (scarcity). Poin penting untuk dipahami ialah semakin padatnya populasi tidak serta merta memperbesar pangsa pasar properti, sehubungan peningkatan harga lahan, mahalnya harga properti dan pergeseran pola konsumsi masyarakat.

Fakta menunjukkan bahwa berdasarkan Susenas 2018 terdapat delapan provinsi selain DKI Jakarta dengan pemilikan rumah terendah: Sumatra Utara, Riau, Kep. Riau, Sumatra Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur dan Papua Barat. Lebih jauh, tiga provinsi terakhir memiliki persentase tertinggi terkait rumah tangga dengan pemilikan lebih dari satu rumah. Hal ini secara ringkas menggambarkan kesenjangan penyerapan residensial di Indonesia dengan gambaran bahwa di beberapa provinsi yang hampir seperempat kepala rumah tangganya belum memiliki rumah, sekitar 17 dari 75 kepala rumah tangga yang sudah memiliki rumah ternyata punya rumah lainnya.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0468 || diagnostic_web = 0.3320

Close [X]
×