Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.460
  • EMAS662.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Pemindahan ibu kota dan banjir Jakarta

Rabu, 08 Mei 2019 / 11:26 WIB

Pemindahan ibu kota dan banjir Jakarta

Wacana pemindahan ibu kota negara kembali mengemuka belakangan. Topik tersebut malah merupakan hal yang biasa dan terjadi di hampir setiap kepemimpinan yang ada di negeri ini, sejak era Bung Karno. Pertama kali, Presiden RI pertama Soekarno mencetuskan wacana pindah ibu kota ke Palangkaraya.

Kini, muncul kembali tiga alternatif anyar hasil rapat Pemerintahan Joko Widodo. Pertama, ibu kota negara tetap ada di Jakarta tetapi daerah di seputaran Istana Kepresidenan dan kawasan Monas dibuat khusus untuk kantor-kantor pemerintahan, kementerian, dan lembaga. Yang kedua, adalah pusat pemerintahan pindah ke luar Jakarta. Tetapi, masih dalam radius sekitar 50 km70 km dari Jakarta. Alternatif  ketiga, adalah memindahkan ibu kota ke luar Pulau Jawa, khususnya kawasan Timur Indonesia. Presiden Jokowi menegaskan, lebih memilih alternatif terakhir.

Alternatif luar Pulau Jawa memunculkan tiga opsi lagi. Dan semuanya berada di Pulau Kalimantan. Tiga kota opsi lokasi ibu kota yang baru yakni seperti usulan Bung Karno adalah daerah Palangkaraya dan sekitarnya, kemudian ada Tanah Bumbu di Provinsi Kalimantan Selatan, serta Panajam dan sekitarnya yang ada di Provinsi Kalimantan Timur. Optimisme rencana pemindahan ibu kota tersebut belum sepenuhnya hadir, mengingat dibutuhkan anggaran hingga Rp 466 triliun untuk bisa merealisasikannya.

Apapun dan kapanpun realisasi pemindahan ibu kota tidak mengurangi mendesaknya untuk mengurai masalah di Jakarta saat ini. Salah satu yang terbesar adalah banjir. Jakarta bisa dikatakan sebagai ibu kota banjir Indonesia. Banjir menjadi bencana tahunan dan kerap melumpuhkan sebagian kota. Kondisi klasik ini sebenarnya sudah masuk darurat dan mesti menjadi prioritas nasional, mengingat statusnya sebagai ibu kota negara.

Belakangan, banjir kembali melanda Jakarta. Sungai Ciliwung meluap dan menggenangi sebagian wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Selatan pada Jumat (26/4). Daerah terdampak banjir terdiri dari 18 titik yang terdiri dari 4 titik di wilayah Jakarta Selatan dan 14 titik di wilayah Jakarta Timur. BPBD Provinsi DKI Jakarta melaporkan, sebanyak 2.942 orang mengungsi di 16 titik pengungsian.

Banjir Jakarta merupakan fenomena klasik yang terjadi pula di sebagian besar wilayah Indonesia. Musim kemarau selalu menimbulkan kekeringan di Indonesia. Hal ini adalah paradoks, mengingat Indonesia sebagai negara tropis yang semestinya makmur air. Indonesia memiliki potensi sumberdaya air nomor lima terbesar sedunia. Penyebab kekeringan di Indonesia diprediksi karena penyimpangan iklim, gangguan keseimbangan hidrologis, dan kekeringan agronomis.

Kekeringan dan banjir bagaikan dua sisi mata uang yang datang silih berganti. Krisis air didiagnosis terjadi karena efek gegar hidrologi. Gegar hidrologi seperti halnya gegar otak, merupakan kondisi di mana pengelola negeri ini tidak mampu memahami dan gagal memfungsikan kaidah-kaidah hidrologi dalam pembangunan (Siswantara, 2011).


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0580 || diagnostic_web = 0.3593

Close [X]
×