kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Penjualan menurun, premium mengalah


Senin, 30 April 2018 / 17:36 WIB

Penjualan menurun, premium mengalah

KONTAN: Jadi memang, karena hitungan permintaan dan penawaran saja?
SYARIF:
Iya, memang karena bisnis. Margin sebenarnya hanya sebagian kecil. Tapi yang utama, lantaran permintaan Pertalite yang lebih tinggi.

Selain itu, sekarang jauh lebih banyak yang menjual Pertalite karena untuk Jawa, Madura, dan Balu, Premium sudah tidak lagi menjadi penugasan.

KONTAN: Berapa besar, sih, perbedaan margin antara Premium dengan Pertalite?
SYARIF:
Margin Premium sebesar Rp 270 per liter, sementara Pertalite sekitar Rp 325 sampai Rp 350 per liter. Sebenarnya, angka itu tidak terlalu jauh. Kalau memang diwajibkan menjual Premium, ya, silakan saja.

Tapi, kalau diwajibkan untuk menjual seluruh jenis produk, ya, agak sulit karena keterbatasan tangki penyimpanan. Tapi, kan, kalau menambah tangki penyimpanan menjadi terlalu banyak stok.

KONTAN: Tapi, apakah ada arahan dari Pertamina untuk pengusaha SPBU supaya lebih banyak menjual Pertalite ketimbang Premium?
SYARIF:
Tidak ada arahan seperti itu. Ini memang benar hitungan bisnis dari kami. Mekanismenya, masing-masing dari pengusaha SPBU. Pertamina, kan, tidak bisa memaksakan semua produk harus dijual atau sebaliknya.

Jadi, hitungan bisnisnya, kami mempunyai keterbatasan jumlah tangki penyimpanan juga, lo. Sehingga, tidak semua akan kami ambil. Pilihannya tetap ada di SPBU, Pertamina tinggal mengikuti.
KONTAN: Saat ini, berapa persen penjualan Premium dari total bahan bakar?
SYARIF:
Premium tinggal 16% hingga 20% dari total seluruh produk bahan bakar. Sekarang memang, yang lebih tinggi adalah penjualan Pertalite.

KONTAN: Cuma, pemerintah ingin merevisi aturan main penjualan Premium di Jawa dan Bali, dari sebelumnya tidak wajib jadi wajib. Tanggapan pelaku usaha?
SYARIF:
Selama ini, dari Pertamina memang tidak ada kewajiban menjual Premium di wilayah Jawa, Madura, dan Bali. Keputusan ini mengacu pada peraturan yang telah ditetapkan pemerintah. Tapi, jika aturan itu direvisi, kami sebagai perpanjangan tangan dari Pertamina, ya harus mengikuti.

Hanya, dari sisi pengusaha SPBU yang sering berkomunikasi dengan masyarakat, publik sebenarnya sudah cukup puas dengan kehadiran Pertalite. Di lapangan, saya sering menanyakan, mengapa memakai Pertalite.

Jawaban mereka, karena kualitasnya lebih baik dengan selisih harga yang tidak terlalu tinggi. Jadi kalau sekarang Premium diwajibkan, menurut saya, ini sayang sekali.

Padahal, pemerintah ingin menjadikan bahan bakar ke standar Euro 4. Di dunia bahkan sudah ke Euro 6, Indonesia ketinggalan jauh.

Nah, mengapa tidak sekarang terus didorong untuk pemakaian Euro 4. Memang, kalau bicara untuk seluruh Indonesia, itu sulit, paling tidak dimulai di Jawa dan Bali. Kalau Premium diwajibkan kembali, kan, sayang saja.

Tapi kembali lagi, ini keputusan pemerintah yang memang ada pertimbangan-pertimbangan khusus. Cuma dari sisi pasar, itu sangat sayang, Indonesia sudah mulai beralih ke BBM yang kualitasnya lebih baik.

Kalau kita flash back yang direkomendasikan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, RON 88 mau dihapuskan, impornya mau distop.

KONTAN: Itu berarti, pengusaha SPBU setuju kalau Premium dihapuskan?
SYARIF: Kami sebenarnya tidak setuju Premium dihapuskan sama sekali. Soalnya, ada angkutan umum dan kendaraan lain yang masih memakai Premium.

Kalau menurut saya, biarkan saja sekarang SPBU memilih menjual produk apa. Kebijakannya lebih mengarah ke kewajiban penjualan di daerah-daerah yang memang masih membutuhkan Premium. Misalnya di daerah tertentu atau daerah yang dekat dengan terminal angkutan umum.

Daripada seluruh SPBU diwajibkan menjual Premium, karena keterbatasan tangki penyimpanan maka Pertalite yang nanti akan mengalah. Malahan, masyarakat gantian mengeluhkan Pertalite langka. Sebab, banyak, lo, yang mengaku dengan pakai Pertalite, tarikan kendaraan jadi lebih oke.

KONTAN: Memangnya, berat, ya buat pengusaha untuk menambah tangki lagi?
SYARIF:
Kalau menambah tangki penyimpanan, butuh banyak pertimbangan. Artinya, menambah investasi yang jumlahnya tidak sedikit, lalu harus mengurus izin mendirikan bangunan (IMB) yang memakan waktu lama. Selain itu, modal kerja juga bertambah karena stok akan bertambah.

KONTAN: Selama ini, standar empat tangki penyimpanan untuk produk apa saja?
SYARIF:
Sebelum ada Pertalite, maka diisi Premium, Pertamax, Pertamax Turbo, dan Solar. Sekarang ada Pertalite, maka salah satu harus mengalah.

Dalam hitungan kami, yang mengalah Premium. Makanya, kalau nanti penjualan Premium diwajibkan, produk mana yang harus mengalah, ini harus kami pikirkan lagi.       

◆ Biodata

Riwayat pendidikan:
■     SMA Mardi Yuana,  Sukabumi
■     Politeknik Mekanik Swiss Institut Teknologi Bandung

Riwayat pekerjaan:
■     Pegawai PT Mazda Indonesia Manufacturing  
■     Pegawai PT Access Matsushita Mitra Indonesia  
■     Pegawai PT Reprindo Prasidha
■     Ketua Departemen SPBU Hiswana Migas  
■     Wakil Sekretaris Hiswana Migas Wilayah III  
■     Sekretaris Hiswana Migas Wilayah III                                             
■     Ketua Hiswana Migas DKI Jakarta            

** Artikel ini sebelumnya sudah dimuat di Tabloid KONTAN edisi  9 April - 15 April 2018. Selengkapnya silakan klik link berikut: "Penjualan Menurun, Premium Mengalah"


Reporter: Lamgiat Siringoringo
Editor: Mesti Sinaga

Video Pilihan


Close [X]
×