kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Penyelesaian masalah dengan big data


Senin, 09 September 2019 / 10:00 WIB

Penyelesaian masalah dengan big data


Terciptanya lingkungan data yang terintegrasi untuk semua individu adalah impian banyak orang. Namun di sisi lain, masih banyak pula orang yang belum menyadari pentingnya data dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, saat ini data bisa diumpamakan sebagai komoditas yang bahkan lebih berharga daripada emas.

Data adalah informasi. Tak heran, banyak yang bilang: Siapa yang menguasai informasi, maka dialah yang akan menguasai dunia. Kalimat ini merupakan cerminan, bahwa siapa yang menguasai data, maka dia bisa melakukan apapun.

Saat ini, teknik pengambilan data telah berkembang dibanding 10 tahun lalu. Dulu, data sangat sulit diambil karena besarnya tenaga dan dana yang harus dikeluarkan. Sensus saja, perlu 10 tahun sekali karena mahalnya dana untuk pengambilan data itu.

Namun, dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, pengambilan data sudah bisa dilakukan tanpa tatap muka. Semua bisa dijalankan secara online. Ini bisa memangkas biaya, bahkan sampai gratis alias 0%.

Secara tidak sadar, saat ini data kita sudah tercatat di banyak tempat. Sebagai contoh, data penggunaan internet kita dikumpulkan oleh perusahaan telekomunikasi, seperti Telkomsel, XL Axiata, Indosat, dan operator lain.

Data-data tersebut digunakan untuk mengetahui pasar para pemain operator tersebut. Berbekal data pula, mereka bisa menyusun strategi untuk bisnis ke depan. Data yang digunakan bahkan bisa merupakan data yang sudah mencapai level individu, level di mana data tersedia sampai unit terkecil.

Bagaimana perkembangan data yang katanya sudah mencapai level individu itu? Sekarang, semua orang, termasuk di Indonesia, mempunyai smartphone. Banyak sekali aplikasi yang kita gunakan sehari-hari dengan menggunakan ponsel pintar. Sebut saja, transportasi online dari Gojek, Grab, Ovo, Dana, dan masih banyak yang lain, yang dikelola lembaga keuangan nonbank berbasis inovasi dan teknologi bernama fintech.

Pada 2014, Global Findex mencatat, ada 26% orang Indonesia punya akses ke lembaga keuangan dan sisanya masih unbankable. Pada 2017, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inklusi keuangan sudah mencapai 63%. Inilah efek dari teknologi, bukan cuma dari perbankan, juga fintech. Inklusi keuangan saat ini bukanlah hal sulit untuk dicapai dengan perkembangan teknologi yang begitu maju.

Fintech digemari oleh mereka yang tidak mau ke bank dan dilayani via online. Persyaratannya pun umumnya lebih mudah ketimbang mendaftar di bank. Mereka ini bukan institusi perbankan tapi bisa mempunyai data bank atau transaksi individu pelanggan, yang bahkan sampai menjangkau orang yang malah belum mempunyai rekening di bank.

Data ini mereka manfaatkan untuk melihat peluang pasar, mencari apa yang bisa mereka tawarkan untuk pelanggannya. Tentunya, mereka bisa merancang penawaran yang mereka berikan ke setiap individu pelanggannya. Sehingga, customer engagement pun meningkat karena mereka hanya melihat penawaran yang diperlukan saja.

Data transaksi jutaan pelanggan ini disebut dengan big data karena volumenya yang begitu besar. Melihat fakta ini, data bukanlah suatu yang bisa dianggap remeh lagi. Sebab, setiap keputusan bisnis akan lebih akurat, meningkatkan efisiensi strategi, dan tepat sasaran bila menggunakan data. Istilah kerennya adalah data driven decision making.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0013 || diagnostic_api_kanan = 0.0006 || diagnostic_web = 0.1463

Close [X]
×