kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Perang dagang, riset, dan industrialisasi


Kamis, 05 September 2019 / 11:20 WIB

Perang dagang, riset, dan industrialisasi


KONTAN.CO.ID - Tema yang diusung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pemilihan presiden tahun 2020 tidak akan berbeda dengan 2016. Kala itu Trump mengusung tagline "Make America Great Again" yang mengantarkannya menjadi Presiden AS ke-45. Meski banyak pihak meragukan Trump terpilih kembali, tapi indikator ekonomi yang cukup baik, khususnya tingkat pengangguran sebesar 3,6% (terendah sejak tahun 1969) dapat menggerakkan warga AS memilihnya.

Dinamisnya negosiasi AS dan China terkait perang dagang serta potensi terpilihnya Trump dapat membuat perang dagang masih akan berlangsung lama. Dampaknya bagi perekonomian Indonesia memang tidak besar. Posisi Indonesia yang tidak terlalu dominan dalam rantai pasok global serta lemahnya industri manufaktur membuat Indonesia selamat dari imbas negatif perang dagang. Namun apakah itu cukup?

Ketidakstabilan, termasuk yang diciptakan oleh perang dagang, akan membentuk keseimbangan baru. Penurunan pertumbuhan ekonomi negara berbasis manufaktur justru merupakan saat yang tepat untuk mengejar ketertinggalan. Tren deindustrialisasi yang terjadi saat ini harus dibalik jadi tren industrialisasi karena akan memberikan nilai tambah tinggi bagi kesejahteraan masyarakat.

Perang dagang antara AS dan China telah menghasilkan dua dampak utama yaitu; AS mencari partner dagang pengganti China dan merelokasi industri dari China ke negara lain. Karakteristik produk ekspor Indonesia yang berbasis sumber daya alam berbeda dengan produk China yang didominasi hasil industri manufaktur sehingga tidak dapat saling menggantikan. Indonesia juga tidak bisa menjadi tujuan prioritas bagi China untuk merelokasi industrinya.

Indonesia memang unggul dalam hal demografi dan upah tenaga kerja murah, namun tidak unggul dalam beberapa hal seperti; kemudahan berusaha, infrastruktur, dan manufaktur. Pemerintah telah berhasil memperbaiki tingkat kemudahan berusaha dari peringkat 114 (tahun 2014) menjadi 73 (tahun 2019) serta telah melakukan penguatan infrastruktur yang cukup signifikan. Namun perbaikan tersebut belum mampu menciptakan suatu iklim industri manufaktur yang memadai.

Pemerintah harus melakukan langkah strategis untuk menggerakkan seluruh sumber daya pada semua level, perbankan, perguruan tinggi, lembaga riset, dan seluruh pemangku kepentingan. Salah satu hal yang harus dilakukan adalah mendorong riset yang terintegrasi dengan industri karena industri manufaktur yang maju harus didukung riset yang unggul dan bisa bersaing.


Reporter: Harian Kontan
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0031 || diagnostic_api_kanan = 0.0043 || diagnostic_web = 0.4154

Close [X]
×