Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.455
  • EMAS663.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Perilaku risk taking asuransi Jiwasraya

Senin, 21 Januari 2019 / 11:03 WIB

Perilaku risk taking asuransi Jiwasraya

Di pengujung tahun 2018 yang baru saja berakhir, PT Asuransi Jiwasraya kembali membuat berita. Setelah sempat bermasalah beberapa tahun silam akibat terlilit utang sebesar Rp 6,7 triliun, kali ini perusahaan asuransi pelat merah tersebut tidak mampu memenuhi janjinya untuk membayar nilai tunai polis asuransi yang jatuh tempo pada Oktober 2018. Jumlahnya pun cukup besar, mencapai Rp 802 miliar.

Janji membayar dengan tingkat bunga tertentu (tinggi) pun akhirnya kandas, setelah nilai investasi perusahaan yang menjadi underlying produk Asuransi Jiwasraya di pasar modal diperkirakan amblas, seiring penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sementara tawaran memperpanjang (roll over) polis ditolak para pemegang polis.

Di lain pihak, upaya untuk memenuhi kewajiban melalui perolehan premi baru sulit diandalkan akibat redupnya pamor produk asuransi perusahaan. Alhasil, pendapatan dari investasi dan perolehan premi tidak bisa menutupi kebutuhan likuiditas. Sementara itu, pemenuhan likuiditas melalui penjualan investasi perusahaan yang dominan berupa reksadana saham dan saham dalam kondisi rugi (cut loss)tampaknya tidak akan direalisasikan. Pasalnya, ada kekhawatiran timbul kerugian negara jika itu dilaksanakan.

Bila didalami, permasalahan yang mendera perusahaan sejatinya didasari perilaku ambil risiko (risk taking behavior) yang berlebihan. Perilaku risk taking itu begitu kentara dan profil risiko perusahaan pun terlihat risk taker. Lihat saja, komposisi penempatan investasi perusahaan yang tercantum dalam Laporan Keuangan Audited 2017 yang diakses di laman Asuransi Jiwasraya. Investasi yang berisiko tinggi seperti pada reksadana saham dan saham cukup dominan, masing-masing 45,32% (Rp 19,7 triliun) dan 15,68% (Rp 6,63 triliun) dari total penempatan investasi perusahaan yang mencapai Rp 42,31 triliun.

Begitu pula investasi perusahaan pada aset tidak likuid berupa tanah dan bangunan dengan persentase yang cukup besar, mencapai 15,50% (Rp 6,55 triliun). Selain butuh waktu untuk menjual aset properti, nilai pasar properti pun saat ini masih melempem. Bahkan, investasi aset di properti kurang sesuai dengan bisnis model asuransi. Adapun porsi aset likuid dan berisiko rendah yakni deposito dan obligasi pemerintah terbilang minim, masing-masing hanya sebesar 10,25% (Rp 4,33 triliun) dan 7,31% (Rp3,09 triliun).

Komposisi aset investasi seperti itu tidak lepas dari produk asuransi berbalut investasi (saving plan) yang return investasi dijamin perusahaan. Produk yang dijual melalui kanal perbankan (bancassurance) dan menjadi andalan perusahaan itu bukan unitlink, lebih mirip deposito. Produk yang memberikan jaminan return (financial guarantees) tergolong kegiatan nontradisional perusahaan asuransi dan rentan dengan perubahan variabel ekonomi makro (Eling dan Pankoke, 2014). Imbasnya, perusahaan berpotensi mengalami kerugian yang besar bila terjadi shock di pasar keuangan. Dan, kondisi inilah yang terjadi pada Asuransi Jiwasraya.


Reporter: Tri Adi
Editor: Tri Adi
Video Pilihan

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0467 || diagnostic_web = 0.3552

Close [X]
×