kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45845,71   -11,32   -1.32%
  • EMAS943.000 -0,32%
  • RD.SAHAM -0.29%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Perlindungan Digital

oleh Ahmad Febrian - Redaktur Pelaksana


Senin, 03 Mei 2021 / 09:56 WIB
Perlindungan Digital
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Salah satu pemasok Apple, Quanta Computer, menjadi target serangan siber. Perusahaan terebut dilaporkan telah diserang ransomware. Serangan ini diduga berasal dari kelompok peretas (hacker) asal Rusia bernama Revil.

Dokumen yang berhasil mereka curi adalah desain dari perangkat MacBook Apple berikut uraian lengkap komponen di dalamnya. Agar data-data tak disebarluaskan, Revil meminta uang mencapai US$ 50 juta atau sekitar Rp 720 miliar.

Meski cuma pemasok, Apple selalu menerapkan tingkat keamanan tinggi. Adanya serangan tersebut cukup mengejutkan. Sekaligus alarm bagi perusahaan teknologi atau digital dalam melindungi data.

Jika kita tarik ke Indonesia, keamanan digital ini menjadi amat krusial di era neobanking atau bank digital. Berbondong-bondong industri perbankan menekuni apa yang disebut neobanking ini.

Konsep ini berhasil menarik minat investor dan menyuntikkan dana. Tengok saja Bank Jago, Bank Harda, Bank Capital atau Bank Neo Commerce. Maklum, dengan menyulap bank lama menjadi neobanking, hanya butuh Rp 3 triliun. Bandingkan dengan ketentuan mendirikan bank digital baru yang harus bermodal minimal Rp 10 triliun.

Dengan mengusung konsep neobanking ditambah deadline Otoritas Jasa Keuangan (OJK) soal permodalan, kini bank umum kegiatan usaha (BUKU) I hampir punah. Saat ini, masih tersisa satu bank Buku I yaitu Bank Prima Master di Jawa Timur. "Dan masuk pipeline diakuisisi oleh bank besar dari luar," ungkap Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan OJK, Anung Herlianto, seperti ditulis Kontan.co.id, Minggu (2/5).

Dari sisi aplikasi, neobanking itu tingkat lanjut dari mobile banking yang selama ini sudah familiar. Konsep neobanking akan terhubung lebih banyak mitra. Cara ini memang memudahkan nasabah. Tapi di sisi lain, langkah tersebut memunculkan kekhawatiran soal perlindungan dana nasabah bank.

Apalagi menurut F5's Curve of Convenience 2020 Report: The Privacy Convenience Paradox, hanya sekitar 57% konsumen di Indonesia yang percaya layanan keuangan cukup efektif dalam hal privasi data dan perlindungan informasi pribadi. Regulator sudah menyadari, salah satu tantangan terbesar sejak awal adalah keamanan data nasabah.

Dengan menjadi bank digital, semua transaksi nasabah akan dilakukan secara online dan terhubung dengan banyak pihak. Keamanan data nasabah wajib jadi prioritas.

Penulis : Ahmad Febrian

Redaktur Pelaksana




TERBARU

[X]
×