kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45889,80   -6,05   -0.68%
  • EMAS1.327.000 0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Piknik Pandemi


Rabu, 15 Juli 2020 / 08:43 WIB
Piknik Pandemi
ILUSTRASI.


Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Menjelang akhir libur sekolah ini, orang tak lagi enggan berjalan-jalan. Meski mereka yang positif terpapar. Coba tengok saja di lini masa media sosial, foto kuliner di daerah, mulai muncul. Menurut seorang kawan yang liburan bersama keluarganya ke Jogja, jalanan dari ibukota ke sana, cenderung sepi. "Di sana hotel juga masih murah," kata dia. Daripada ikut berkerumun di pusat perbelanjaan yang indoor, ia lebih pilih piknik ke luar kota dan menikmati kuliner seperti sebelum pandemi.

Kecenderungan wisatawan lokal untuk bepergian sudah tak terbendung. Menurut riset Booking.com, 76% wisatawan Indonesia tetap ingin piknik. Hanya saja, mereka pilih untuk piknik domestik saja, alih-alih ke luar negeri.

Pemesanan akomodasi domestik, biasanya memberikan kontribusi sekitar 45% dari penjualan Booking.com. Namun, agregator akomodasi ini mencatat bahwa pemesanan akomodasi domestik Indonesia mencapai 55% pada April 2020 lalu.

Hal ini sejalan dengan survei internal Traveloka, yang menemukan bahwa jumlah turis domestik sejak Maret 2020 naik 96%, sedangkan jumlah turis asing turun 65% dibandingkan tahun lalu.

Pada tahun 2019 lalu, menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pergerakan wisatawan domestik 275 juta kali. Ini lebih rendah ketimbang tahun 2018 yang sebesar 303 juta kali. Penurunan tahun lalu terkait mahalnya tiket pesawat.

Tahun ini, industri wisata adalah yang pertama kena hantam virus korona. World Tourism Organization (WTO) memperkirakan piknik turis asing terkontraksi hingga -44%, karena ada 500 juta orang memilih tak berlibur ke luar negeri hingga pandemi bisa dikendalikan.

Akibat pandemi, industri pariwisata Indonesia diprediksi mengalami kerugian sampai Rp 85 triliun. Catatan PHRI menunjukkan ada sekitar 2.000 hotel menghentikan bisnis mereka karena PSBB. Meski sekarang memasuki masa new normal, para pelaku bisnis pariwisata mengatakan industri ini tidak bisa serta merta bangkit. Paling tidak, dibutuhkan satu tahun hingga normal.

Asosiasi Perjalanan Asia Pasifik atau PATA memperkirakan bisnis turis kawasan ini kehilangan US$ 34,6 miliar atau sekitar Rp 490 triliun karena pandemi. Tahun lalu, Asia Tenggara adalah tujuan populer turis dunia. Sekitar 133 juta turis menjelajah pelosok Asia Tenggara. Hal yang mustahil diharapkan tahun ini, tapi ada banyak turis domestik yang siap piknik karena bosan diam di rumah.

Penulis : Hendrika Y.

Managing Editor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×