kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45709,36   15,51   2.24%
  • EMAS908.000 -0,11%
  • RD.SAHAM 0.24%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.39%

Pilihan Sulit

oleh Khomarul Hidayat - Redaktur Pelaksana


Sabtu, 16 Mei 2020 / 16:50 WIB
Pilihan Sulit
ILUSTRASI.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Maria Ignatia Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - Sudah lebih dari dua bulan, pembatasan sosial diterapkan di Indonesia. Pembatasan aktivitas masyarakat dan ekonomi sejauh ini menjadi cara paling baik yang ditempuh banyak negara, termasuk Indonesia, untuk memutus mata rantai virus korona.

Tak dipungkiri efek pembatasan sosial membuat kegiatan ekonomi nasional maupun ekonomi masyarakat menjadi drop. Dan tak butuh waktu lama pula, wabah korona mampu menghajar perekonomian.

Kesulitan ekonomi itu yang kini membuat masyarakat banyak bertanya-tanya, kapan pembatasan sosial ini bakal usai? Mungkin itu yang membuat pemerintah menyiapkan skenario pelonggaran pembatasan sosial. Walau, kasus positif infeksi korona di Indonesia makin bertambah banyak, alih-alih mulai mereda.

Jatuhnya ekonomi Indonesia di kuartal I 2020 yang di luar perkiraan, barangkali menjadikan pemerintah makin cemas jika pembatasan sosial terus diterapkan berkepanjangan akan makin menenggelamkan perekonomian nasional.

Maka kemudian terbersit rencana untuk memberi kelonggaran agar aktivitas ekonomi tetap jalan. Bahkan Presiden Jokowi pun sampai melontarkan pernyataan bahwa masyarakat harus mulai hidup berdamai dengan virus korona.

Memang ini pilihan sulit. Dilema antara kepentingan menyelamatkan ekonomi dengan menyelamatkan nyawa masyarakat. Dilema ini juga dialami negara-negara lain sehingga kemudian beberapa negara mulai menyiapkan skenario untuk melonggarkan pembatasan sosial.

Hanya saja, melihat kasus positif korona yang dalam beberapa hari terakhir makin tinggi, rasanya terlalu dini untuk memberi kelonggaran. Kurva kasus korona di Indonesia belum benar-benar menunjukkan tanda-tanda tren penurunan sehingga amat berisiko kalau pembatasan sosial tiba-tiba dilonggarkan.

Apalagi banyak warga yang masih tak disiplin menjalankan jarak sosial maupun jarak fisik. Sekadar diingatkan untuk memakai masker saja malah naik pitam. Kerumunan juga masih acap ditemukan.

Padahal disiplin menerapkan jarak sosial dan jarak fisik menjadi kunci menekan penyebaran wabah penyakit ini. Vietnam, negara dengan jumlah kasus korona minim dan tanpa kasus kematian, sudah membuktikan itu.

Jadi, keselamatan warga mestinya tetap yang utama. Toh, kalau wabah makin menyebar dan korban terus berjatuhan, butuh waktu makin lama pula untuk memulihkan perekonomian.

Penulis : Khomarul Hidayat

Redaktur Pelaksana



TERBARU
Terpopuler

[X]
×