kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pilihan tepat relaksasi bunga


Senin, 23 September 2019 / 09:05 WIB

Pilihan tepat relaksasi bunga

Kelesuan ekonomi tengah melanda dunia. Resesi ekonomi menjadi ancaman di berbagai negara, malah beberapa negara sudah jatuh dalam krisis, contohnya Argentina. Perang dagang yang belum reda menambah suram prospek ekonomi ke depan.

Semua negara punya resep yang hampir sama untuk mencoba membangkitkan perekonomiannya yang terjebak dalam pertumbuhan ekonomi lemah. Terutama menaikkan lagi daya beli masyarakat yang menjadi masalah di banyak negara termasuk Indonesia.

Salah satu resepnya dengan melonggarkan kebijakan moneter dengan mengendurkan suku bunga. Pekan ini beberapa bank sentral dunia memilih resep ini untuk mengamankan ekonomi negaranya.

Tak terkecuali Bank Indonesia (BI) yang menggunting suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,25%. Ini sudah ketiga kali di tahun ini, BI memangkas suku bunga.

Paling baru China, kemarin, menurunkan suku bunga pinjaman satu tahun dalam dua bulan berturut-turut demi menjaga ekonominya yang terdampak perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Hari sebelumnya, Bank Sentral AS lebih dulu memotong bunga 25 basis poin menjadi 1,75%–2%. Bahkan beberapa bank sentral utama dunia seperti Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Jepang sudah lama mengadopsi kebijakan moneter yang tidak konvensional yakni menerapkan suku bunga negatif untuk merangsang ekonominya.

Pekan lalu, Bank Sentral Eropa malah mendorong suku bunganya ke teritori lebih negatif.

Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat namun dengan inflasi rendah seperti di Indonesia, melonggarkan suku bunga adalah pilihan masuk akal. Dengan bunga lebih ringan, harapannya perputaran kredit perbankan akan lebih kencang karena akan merangsang permintaan pinjaman.

Apalagi kalau dibarengi pelonggaran ketentuan kredit, seperti yang dilakukan BI dengan merelaksasi loan to value (LTV) kredit properti dan kredit kendaraan bermotor.

Dua segmen kredit ini paling berkaitan erat dengan masyarakat luas dan efek gulir ke ekonomi cukup besar. Ambil contoh, perputaran kredit properti bisa menggerakkan industri lain yang bertautan dengan properti. Bayangkan, ada sekitar 174 industri terkait sektor properti yang ikut bergerak.

Mulai semen, keramik, genteng, besi, baja, cat, kayu hingga furnitur. Semoga resep BI kali ini manjur mendongkrak ekonomi.♦

Khomarul Hidayat


Reporter: Khomarul Hidayat
Editor: Tri Adi

Video Pilihan


Close [X]
×